Sahur di Madrid, Berbekal Rice Cooker dan Keripik Dendeng

Ramadan 2015

Sahur di Madrid, Berbekal Rice Cooker dan Keripik Dendeng

Ray Hafid, - detikNews
Selasa, 07 Jul 2015 14:03 WIB
Sahur di Madrid, Berbekal Rice Cooker dan Keripik Dendeng
Ray Hafid saat di Madrid (foto; Ist)
Madrid, - Matahari bersinar terik di atas kepala, suhu udara kala itu mencapai 40°C. Lokasi pantai tempat saya berdiri membuat kulit terasa 'dipanggang'. Sangat Panas.

Perkenalkan, nama saya Ray Hafid, saya pernah mengalami puasa dan lebaran di Spanyol tahun 2013 lalu. Saya bersama dengan 43 rombongan paduan suara kala itu tengah mengikuti festival paduan suara. Selama 28 hari saya di Madrid, Spanyol mengikuti rangkaian latihan dan lomba yang sebagian besar kegiatannya dilakukan di luar ruangan, salah satunya di pantai.

Subuh di Madrid sama seperti di Indonesia yakni sekitar pukul 04.00, namun waktu berbuka lebih malam sekitar pukul 21.00 atau 22.00 malam. Maka, saya dan teman-teman berpuasa sekitar 17 jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama hampir sebulan saya menjalani puasa hingga Lebaran di sana. Sahur biasanya memasak nasi sendiri dari rice cooker yang dibawa dari Indonesia. Lauknya dengan keripik dendeng dari Tanah Air, ada juga teman yang membawa rendang. Saat stok makanan itu habis, saya biasa mengkonsumsi sayur dan ikan karena di sana sulit mendapatkan makanan halal.

Setelah sahur, kami harus latihan untuk persiapan lomba festival. Di bawah sinar matahari yang panas kami harus bernyanyi sampai-sampai ternggorokan kering. Bahkan saya sempat beberapa kali  batal puasa karena tidak kuat.

Musim panas di Spanyol membuat banyak warganya berpakain minim dan bahkan topless saat berjemur di pantai atau di taman kota. Hal itu menjadi salah satu godaan juga di tengah puasa saya.

Namun akhirnya puasa panjang dalam suasana panas bisa saya lewati. Banyaknya kegiatan yang saya jalani membuat waktu berjalan cepat. Selain itu minum air putih yang banyak saat sahur juga ikut membantu menjaga daya tahan tubuh saat puasa.

Di Madrid tidak ada masjid yang mengumandangkan azan, sehingga waktu salat dan buka puasa hanya berpatokan dari alarm di handphone. Untungnya, setiap akhir pekan KBRI Madrid menggelar acara buka puasa bersama.

Buka puasa di KBRI Madrid mengobati rindu saya pada masakan di Tanah Air. Menu buka puasanya biasanya khas Indonesia seperti kolak, es buah dan makanan-makanan tradisional. Di sana saya juga bisa bertemu dengan teman-teman Indonesia lainnya dan bersilaturahmi hingga Lebaran tiba. Saya pulang ke Tanah Air setelah Lebaran dan memang puasa di sana memberikan pengalaman menarik bagi saya.


*Penulis pernah menjadi peserta festival paduan suara di Madrid dan kini bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta.

Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda.






(slm/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads