Perusahaan pertama yang ditinjau adalah perusahaan Saed di Jeddah. Aher melihat balai latihan kerja perusahaan. Di sana dibuat ruangan-ruangan seperti halnya di rumah. Ada kamar, dapur, kamar mandi. Dilihat juga kamar tempat tenaga kerja menginap yang agak luas. Satu kamar tiga tempat tidur susun.
"Sebenarnya model Begini kita juga ada di Indonesia, cuma memang tidak semewah ini," celetuk Aher di Jeddah, Senin (6/7).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita diajarkan budaya di sini dan keterampilan mereka mengurus rumah tangga," kata Essam.
Ia menegaskan pelatihan ini gratis bagi tenaga kerja. Ia juga meyakinkan gubernur bahwa nasib tenaga kerja akan terjamin, karena perusahaan diawasi pemerintah.
Perusahaan kedua yang dikunjungi, khusus tempat penampungan pria. "Kaya penjara saja," ujar Aher usai memantau. Ia mengatakan seperti penjara karena semua tenaga kerja memang dilarang untuk keluar.
"Saya meninjau langsung ke sini karena Jabar punya kepentingan. Tenaga kerja dari Jabar di sini banyak," ujarnya.
Ia mengaku sepulangnya dari Arab Saudi, ia akan langsung berkoordinasi dengan pemerintah pusat melalui Menaker dan BNP2TKI membahas soal penempatan tenaga kerja semi skill.
"Kita tidak ingin melangkahi pemerintah pusat. Kalau mulai dibuka (pengiriman tenaga kerja) semi skill, harus sepengatahuan dan izin perintah pusat," tandasnya.
Aher menegaskan sekarang ini sudah tidak ada lagi domestic worker atau tenaga kerja unskill yang menjadi pembantu rumah tangga. Ke depan tenaga kerja unskill akan dilatih menjadi semi skill untuk mengisi tujuh jabatan sesuai Permen No 1 Tahun 2015.
Tujuh jabatan itu antara lain baby sitter, housekeeper, sopir, cleaning service, dan tukang masak.
Sejak moratorium TKI ke Arab Saudi 2011 lalu dan berakhir penyetopan total tahun ini, Jabar sudah tidak pernah mengirimkan lagi tenaga kerja secara resmi. Namun menurut Ketua Umum Ayub Basalamah para TKI masih tetap datang namun lewat jalur tikus atau ilegal. Bahkan jumlahnya meningkat.
(dra/dra)










































