"Nggak (melibatkan ahli dari produsen), dari tim internal sudah memadai," ungkap Moeldoko di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (6/7/2015) malam.
Pesawat Hercules yang jatuh pada Selasa (28/6) lalu itu merupakan pabrikan Lockheed Martin (dulu Lockheed) Amerika Serikat. Indonesia membeli tipe B Hercules itu pada tahun 1964 saat era Presiden Soekarno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ntar dulu, tim masih bekerja," kata Panglima TNI.
Hal senada diungkapkan oleh Kadispen TNI AU Marsma Dwi Badarmanto saat dikonfirmasi. Hingga saat ini, tim investigas masih berusaha bekerja sendiri untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat.
"Untuk tim investigasi kecelakaan sedang bekerja. Tim dari TNI AU, kami ada tim sendiri," ujar Dwi kepada wartawan.
Adapun beberapa unsur dilibatkan dalam investigasi ini. Seperti dari Diskolek (dinas komunikasi dan elektronika) dan pihak Lambangja (keselamatan terbang dan kerja).
"Ada juga dari Depku, Denma, dan personel yang intens menangani itu. Ada kurang lebih 50 anggota tim," jelas Dwi.
Menurut Dwi, memang tak menutup kemungkinan TNI AU melibatkan pihak-pihak terkait dalam investigasi seperti dari pihak produsen. Hanya saja itu dilakukan jika memang betul-betul diperlukan.
"Kita akan libatkan semua. Bisa juga ahli dari luar, misalnya KNKT atau pabrik dari sana (AS). Tapi itu kalau perlu," tutur marsekal bintang 1 itu.
Sebelumnya 2 peti kayu berisi instrumen kokpit Pesawat Hercules A-1310 dibawa ke Jakarta dari Medan. Instrumen itu disebut diperlukan untuk kepentingan investigasi.
(ear/jor)











































