Mencegah hal itu terjadi, Irjen Tito pun memerintahkan kepada jajaran Polres untuk lebih mengintensifkan razia dan patroli skala besar.
"Saya melihat ini tidak banyak manfaatnya, manfaatnya apa? Kalau di kampung-kampung mungkin iya, memmbangunkan orang pakai kentongan. Tapi kalau membangunkannya di Sarinah, di Kota, siapa yang mau dibangunkan," jelas Irjen Tito kepada wartawan di Polres Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (6/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari hasil anev kita, niatnya bagus, sahur di jalan. Tapi dalam praktiknya ini sudah mulai meyimpang, yang terjadi arak-arakan melanggar lalin, gak pakai helm, pintu belakang mobil dibuka, ada naik di atas kap, bahkan ada yang ditemukan di Mampang minum miras hingga berkelahi," terang dia.
"Saya sudah perintahkan ke seluruh jajaran Kapolres untuk melakukan razia skala besar. Kalau lihat ada arak-arakan SOTR ini berpotensi ganggu kamtibmas, razia, lakukan pemeriksaan, cek surat-surat kelengkapan kendaraannya," tambahnya.
Lulusan terbaik AKPOL '87 itu meminta agar jajarannya menilang peserta SOTR yang tidak memiliki kelengkapan surat-surat kendaraannya.
Sementara untuk kegiatan SOTR yang benar-benar melakukan kegiatan baik seperti membagikan sahur ke orang pinggiran, sebaiknya memberi pemberitahuan ke aparat polisi terlebih dahulu.
"Memang tidak semuanya buruk. Kalau yang baik itu boleh, lebih bagus kalau diberit tahu polisi agar bisa kita kawal," tutupnya. (mei/faj)










































