Kuasa hukum tersangka Agus Tay, Hotman Paris, mengungkapkan informasi soal SMS itu diterimanya dari para petugas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Bali. Ada saksi kuat juga yang diklaim dapat memperjelas cerita ini.
Ada beberapa capture SMS yang ditunjukkan pada detikcom. Isinya, seputar SMS ancaman dari penculik yang mengaku menyekap Engeline dan meminta uang tebusan. Jumlah nominalnya mencapai Rp 150 juta.
caption-here.. |
Nah, dari SMS itu, Hotman menduga, ada penggalangan dana ke sejumlah donatur, terutama di luar negeri. Seorang pria Australia, diklaim ada yang sudah mengakui hal ini dan sempat hendak memberikan sumbangan, namun belum terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hotman menuding keluarga angkat Engeline di balik penggalangan dana tersebut. Karena itu, dia meminta agar polisi mengusut masalah ini. Terutama guna mengetahui apakah ada kaitannya dengan pembunuhan atau tidak.
"Sebelumnya kan di media sosial, tidak pernah ada yang melaporkan penculikan permintaan tebusan. Tapi ada SMS-SMS ini," tegas Hotman.
Petugas P2TP2A Kota Denpasar, Siti Sapurah atau Ipung, membenarkan cerita Hotman. Dia menambahkan, saksi pria Australia yang berencana memberikan donasi untuk menebus penculik Engeline rencananya akan diajukan kepada polisi agar diperiksa pekan depan.
Kuasa hukum keluarga angkat Engeline, Dion Pongkor, saat dikonfirmasi soal ini menegaskan, SMS-SMS penculikan dan permintaan tebusan memang banyak masuk ke nomor ponsel keluarga Margriet. Hal ini terjadi setelah berita hilangnya Engeline meluas hingga ke berbagai negara.
"Waktu pertama kali Engeline hilang, banyak yang mengaku menculik dan meminta uang tebusan," tegas Dion saat dikonfirmasi detikcom.
Namun, walau banyak SMS penculik, keluarga tak memanfaatkan itu untuk mencari penggalangan dana. Bila ada orang yang berinisiatif untuk menggalang dana, itu dipastikan bukan dari keluarga.
"Dulu ada ketua ekspatriat bali, bikin tempelan di facebook sayembara Rp 40 juta. Keluarga tidak mengetahui itu. Ketika ditanya, kenapa bikin tanpa koordinasi keluarga? Itu bukan dari inisiatif dari keluarga. Dia cerita katanya saya juga punya anak perempuan dan saya tiga orang teman saya berjanji memberikan donasi jika anak itu ditemukan," jelasnya.
"Jadi, kalau penculik minta tebusan waktu itu nggak diladenin. Tapi ada yang mau ngasih donasi kalau Engeline tertangkap," sambungnya.
Kabid Humas Polda Bali AKBP Heri Wiyanto saat dikonfirmasi soal SMS tersebut mengaku belum tahu. Menurutnya, sejak awal keluarga tak pernah melaporkan ada penculikan dan permintaan tebusan. Yang ada hanya laporan orang hilang. Terkait saksi yang dimintai penggalangan dana, dia belum mendapat informasi.
"Kita masih fokus pada penanganan dua tersangka. Itu dulu," jawab Heri saat dihubungi detikcom.
(mad/nrl)











































caption-here..