"(Penyebab) masih dalam penyelidikan, kami tidak bisa mengira. Kerugian belum bisa kami hitung karena masih proses penyelidikan," kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo kepada wartawan saat jumpa pers di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Minggu (5/7/2015). Dia menggelar jumpa pers bersama pejabat Imigrasi, Garuda, AirNav dan AP II.
Suprasetyo mengaku pihaknya juga belum bisa memastikan asal muasal sumber api. Menurut dia ada dua titik api di JW Sky Lounge. Namun lokasi tersebut saat ini dipasangi police line sehingga tidak bisa dimasuki. "Saya lihat ada 2 titik di lokasi JW Sky lounge. Kita tunggu saja penyebabnya apa, saya juga belum masuk lokasi," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia memastikan bahwa kebakaran kali ini bukan disebabkan oleh masalah kekurangan cadangan listrik di Bandara. "Jadi kalau ketersediaan listrik cukup di Bandara Soekarno-Hatta pasti ada cadangan lebih dari 20 persen. Jadi tidak mungkin kekurangan listrik yang menyebabkan misalnya kebakaran," kata Suprasetyo.
Standar instalasi listrik di Bandara Soekarno-Hatta, kata Suprasetyo, ada aturan. Dirjen Perhubungan Udara tidak mengizinkan penggunaan gas di Bandara. "Penggunaan gas tidak boleh, hanya boleh listrik," kata dia.
Akibat kebakaran tersebut sejumlah penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kacau. Sedikitnya ada 30 penerbangan mengalami penundaan perbangan alias delay.
"30 Penerbangan mengalami delay di atas pukul 10.00 WIB," kata Suprasetyo.
Selain Garuda Indonesia, ada dua penerbangan internasional yang juga ikut terganggung jadwalnya. Dua airlines itu adalah China Southern Airlines dan Malaysia Airlines. (erd/nrl)











































