"Perlu jiwa besar, sikap all out, untuk memenangkan Pilkada mendatang. Itu yang sangat penting. Ini perlu dalam sistem pemilihan langsung daerah seperti bupati, walikota," kata SBY dalam pidato penutupan Rapimnas hari pertama di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/7/2015).
Dia pun mengajak para kader Demokrat untuk mengingat ketika SBY berjuang di Pemilu Presiden 2004. Ketika itu, SBY yang diusung sebagai calon presiden dengan Jusuf Kalla sebagai wakil presiden mendapat dukungan dari partai-partai yang tak memiliki dukungan suara besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, saat Pilpres 2004 di putaran dua, Partai Demokrat mendapat dukungan dari PKPI, PBB, dan PKS. Koalisi parpol ini menamakan sebagai Koalisi Kerakyatan. Saat itu koalisi parpol ini berhadapan dengan Koalisi Kebangsaan yang terdiri dari sejumlah partai seperti PDIP, PDS, Golkar, dan PPP.
Hasilnya, saat itu pasangan SBY-JK bisa memenangkan Pilpres 2004.
"Saudara sekalian kekuatan hanya maksimal 15 persen berhadapan dengan raksasa-raksasa partai yang totalnya 85 persen dari segi partai-partai pendukung, tapi Alhamdulillah berhasil," sebutnya.
Lanjutnya, jika Partai Demokrat sudah mengusung calon maka tinggal berjuang keras untuk Pilkada. Sisa waktu sebelum Pilkada dimulai harus dimaksimalkan.
Apalagi, menurut SBY, partai Demokrat tak memiliki masalah legalitas hukum dalam kepengurusan partai.
"Setelah kita punya calon mari kita sukseskan. Dari segi legalitas kita belum punya masalah. Misalnya ada DPPnya ada dua. Bersyukur kita utuh kompak harusnya tidak terlalu banyak permasalahan dalam menyelesaikan Pilkada nanti," katanya.
(hat/imk)










































