Kabut asap itu merupakan efek kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Dumai dan sekitarnya. Beberapa hari sebelumnya kabut asap itu sempat mengganggu aktivitas Bandara Pinang Kampai, Dumai.
"Kualitas udara yang terpantau dari Indeks Standard Pencemaran Udara juga menurun," kata Kapusdatin Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan singkatnya, Sabtu pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan satelit Modis di Sumatera pada Jumat (3/7) terdapat 203 hotspot atau titik panas, yaitu di Sumatera Selatan 71, Jambi 37, Sumatera Barat 24, Riau 23, Sumatera Utara 23, Sumatera Selatan 9, Lampung 14, Kepulauan Bangka Belitung 4, Aceh 3, Bengkulu 3, dan Kepulauan Riau 1.
Disebutkan Sutopo, upaya penanggulangan Karhutla terus dilakukan. Gubernur dan bupati sebagai penanggung jawab penanganan Karhutla di daerahnya dengan memanfatkan seluruh potensi yang ada. Pemerintah pusat sifatnya mendukung pemda.
Β
Di Riau, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), BNPB dan TNI Angkatan Udara terus melakukan operasi hujan buatan sejak 22 Juni hingga sekarang. Total sudah 9 kali penerbangan dengan pesawat CN 295 TNI dilakukan menaburkan 18,8 ton garam bahan semai ke dalam awan. Satgas di darat dari TNI, Manggala Agni, BPBD, relawan, dunia usaha dan masyarakat juga memadam api, baik di lahan maupun di kawasan kawasan hutan.
Ada 1.352 hektar lahan yang terbakar yaitu 326 hektar di lahan non hutan dan 1.026 hektar lahan di kawasan hutan yang terbakar. Seluas 819 hektar berhasil dipadamkan sedangkan 533 hektar belum dapat dipadamkan. Dari 1.026 hektar kawasan hutan yang terbakar terdapat di Area Penggunaan Lain (APL) 826 hektar, hutan produksi 181 hektar, Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil 11 hektar, dan area lainnya.
Manggala Agni sebagian berhasil memadamkan api. Sementara Satgas Penegakan Hukum berhasil menangkap pembakar lahan itu, dan menetapkan 23 orang sebagai tersangka. (rul/rul)











































