Ramai di Media Sosial, Ini Penjelasan PBNU Tentang Islam Nusantara

Nala Edwin - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2015 12:09 WIB
dok.PBNU
Jakarta - Islam nusantara sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ada yang pro ada yang kontra. Diskusi mulai dari yang ringan hingga yang keras mengemuka.

Hingga kemudian, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj, angkat bicara mengenai Islam Nusantara, yang merupakan tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama.
 
“Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya,” kata Said, Sabtu (4/7/2015).

Said menyampaikan, meskipun bersikap kompromi terhadap budaya di Nusantara, Islam Nusantara tetap tidak membenarkan adanya sebuah tradisi yang bertentangan dengan syariat Islam.
 
“Misalkan ada tradisi yang melegalkan seks bebas, itu tidak dibenarkan, tidak diterima dan dicarikan komprominya. Yang positif, masyarakat Indonesia kuno mengenal selametan dengan sesaji, ketika Islam masuk diisi dengan pengajian, membaca ayat-ayat Al Quran, dibarengi sedekah, itulah tradisi Islam Nusantara,” jelas Said.
 
Melalui Islam Nusantara yang akan dijadikan tema besar dalam Muktamar ke-33 mendatang, Said menekankannya sebagai sumbangsih NU kepada Indonesia dan dunia yang tidak radikal.

“Tradisi Islam Nusantara tidak mungkin menjadikan orang radikal. Tidak mengajarkan membenci, membakar, atau bahkan membunuh,” tegasnya.
 
Sementara mengenai persiapan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang akan dilaksanakan pada 1–5 Agustus mendatang, Kiai Said mengatakan persiapan saat ini sudah mencapai 85%. Materi Muktamar sudah ditetapkan dan didistribusikan, dan saat ini panitia tengah mendistribusikan undangan.
 
“Insya Allah Muktamar akan berjalan lancar,” terang Said.  
 
Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama akan dilangsungkan di Jombang, Jawa Timur, 1–5 Agustus 2015 mendatang. 4 pesantren menjadi lokasi bersama Muktamar, yaitu Darul Ulum, Bahrul Ulum, Denanyar, dan Tebuireng. (dra/dra)