"Alhamdulillah bisa umrah saat Ramadan. Biasanya sulit sekali mencari waktunya, karena harus Tarling (tarawih keliling). Kebetulan ada tugas ke sini (Arab), jadi sekalian umrah," ujar Aher di Makkah, yang berkunjung ke Arab bersama direksi Bank BJB serta Apjati (Asosiasi penyalur tenaga kerja Indonesia) untuk meninjau TKI Jabar, Jumat (3/7/2015).
Rupanya pengalaman umrah saat Ramadan, bukan hanya kali ini saja. Sebelum jadi gubernur, mengaku pernah umrah saat Ramadan, bahkan berlebaran di Makkah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi selain ada tarawih 23 rakaat, selama 10 hari terakhir, ada juga qiyamul lail. Tarawih selesai jam 12 kurang, istirahat sebentar, lalu dilanjut salat lagi, terus sahur," kisahnya.
Apabila bacaan surat saat tarawih 1 juz, saat qiyamul lail lebih banyak sekitar sebanyak 4 juz. "Dan itu masjid penuh."
Pengalamannya Lebaran di Makkah, menurutnya kondisinya sangat berbeda dengan di Indonesia. "Lebaran di sini sepi," cetusnya.
Usai salat Idul Fitri, warga Arab Saudi memilih pulang ke rumah dan istirahat. "Mereka kan capek tuh selama 10 hari terakhir salat terus, jadi pas Lebaran, setelah salat, ya tidur. Jalanan sepi," katanya.
Dua kali umrah saat ramadan dan beberapa kali umrah di bulan biasa, Aher mengaku tetap memiliki pengalaman spritual yang berbeda. "Tiap orang itu kan punya masalah berbeda. Dan saya yakin semuanya tidak bisa menghindarinya. Dan saat umrah, keyakinan kita (terhadap kebesaran Allah) akan makin bertambah," tutupnya. (dra/dra)











































