KSAD: GAM Terus Lakukan Gangguan pada Anggota TNI
Senin, 21 Feb 2005 21:47 WIB
Aceh Besar -
KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) terus melakukan gangguan kepada anggota TNI yang sedang melakukan perbaikan jalan dan jembatan yang rusak. Bahkan, Senin (21/2/2005) siang, seorang prajurit Bataliyon Infanteri (Yonif) 412 bernama Praka Susanto ditembak dari jarak jauh.Ryamizard menegaskan, gangguan GAM kepada para anggota TNI AD yang sedang memperbaiki jalan dan jembatan di wilayah pantai barat masih terus dilakukan. Seperti Minggu (20/2/2005) kemarin, paling parah gangguan GAM menyebabkan satu parjurit dari Bataliyon Zeni Tempur (Yon Zipur)-9, tewas di tertembak di Kampung Harapan, Keude Panga, Aceh Jaya. Bahkan hari yang sama, rombongan KSAD sempat kontak senjata dengan 20 anggota GAM di Desa Cot, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. "Gangguan itu selalu ada, yang paling parah hari ini dan kemarin. Kemarin, satu prajurit tewas tertembak di Panga dan hari ini prajurit ditembak dari jarak jauh di Lhoong, prajurit itu mengalami luka berat dan sekarang sedang dioperasi," jelas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu kepada wartawan di Posko Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Tanggap Darurat di Yonif 112, Japakeh, Mata Ie, Aceh Besar, Senin (21/2/2005).Dengan banyaknya gangguan akhir-akhir ini terhadap anggota TNI yang sedang melakukan pengerjaan perbaikan jalan dan jembatan rusak, Ryamizard menyatakan, tidak akan menurunkan pasukan tambahan. Menurutnya, pasukan yang teleah selesai operasi akan diturunkan guna membackup pasukan zeni yang sedang bekerja. Ryamizard menyayangkan sikap GAM yang menyerang anggota TNI AD, ketika sedang memperbaiki jalan dan jembatan, padahal hal itu untuk kepentingan masyarakat Aceh. "Itulah GAM, masa orang bekerja untuk rakyat Aceh malah ditembaki, berarti GAM ini tidak suka pembangunan dan rakyat Aceh menjadi maju," tegasnya.Sementara itu, ketika mengunjungi Marbuh, Meulaboh, Aceh Barat, Ryamizard sempat memerintahkan Letkol Inf Catur untuk ditarik ke Jawa dan dijadikan Komandan Bataliyon (Danyon). Catur sendiri adalah salah seorang anggota TNI AD yang kehilangan istri dan tiga anaknya saat bencana gempa dan tsunami terjadi di NAD, 26 Desember 2004 lalu. Sebenarnya, walau bertugas di Aceh, Catur berdomisili di Jawa dan pernah mengeyam pendidikan komandan bataliyon, namun belum pernah menjabat sebagai Danyon. "Meskipun dia ngotot ingin tetap di Aceh, tapi tidak diizinkan, karena selain anak dan istrinya tewas, dia juga bukan orang sini. Kalau, di sini dia akan teringat terus anak istrinya, itu tidak bagus dan akan merusak mental prajurit. Tapi semangatnya tetap tinggi, saya hormat dengan prajurit seperti itu," jelas Ryamizard.
(zal/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































