Kisah ini diceritakan dalam buku Hercules Sang Penjelajah yang diterbitkan oleh Skadron 31, salah satu kesatuan khusus pesawat Hercules. Testimoni dari para pelaksana operasi saat itu pun disampaikan di dalam buku.
Sekitar pukul 05.45 Wita di ketinggian 1.250 kaki, 9 pesawat Hercules terbang dengan formasi khusus di atas sisi barat perkampungan nelayan. Para pasukan sudah bersiap dan diminta untuk terjun payung begitu aba-aba dari jumping master diteriakkan. Namun tak lama kemudian langsung terjadi insiden.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasukan penerjun dan pesawat ditembaki oleh gerombolan Fretillin dari darat," kata Marsda TNI (purn) Subagyo Saleh. Saat itu ia merupakan navigator di pesawat dengan kapten pilot Letkol Udara OH Wello. Senjata yang digunakan oleh para penembak adalah peluru api (tracer).
Akibat tembakan itu, load master pesawat Hercules T-1312 Pelda Wardjijo, gugur diterjang peluru. Para pilot bahkan sempat mengangkat kaki saat peristiwa tersebut guna menghindari peluru.
"Mungkin karena perasaan waswas, sambil mengendalikan pesawat untuk keep position kita angkat kaki, takut ada peluru yang nyasar," kenang Marsda TNI (purn) Sudjiarso.
Hantaman peluru sempat merusak navigation compass dan auxiliary hydraulic pump dari pesawat yang diterbangkan oleh Letkol Udara Suakadirul. Dua pesawat Hercules lainnya yang diterbangkan Letkol Udara Sudji Harsono dan Kolonel Udara Sukandar, turut tertembak. Akhirnya 79 anggota TNI batal terjun, dan 9 pesawat Hercules meneruskan penerbangan ke Kupang.
Dari 9 pesawat, ternyata ada empat pesawat yang tidak laik terbang setelah tertembak. Akhirnya pada operasi penerjunan kedua, hanya lima pesawat Hercules yang dilibatkan. Pada penerjunan kedua ini yang berlangsung pukul 07.45 Wita, tidak ada serangan dari Fretillin. Namun yang terjadi malah adu tembak dengan sesama tentara Indonesia.
Sebetulnya, sempat direncanakan untuk penerjunan ketiga, namun akhirnya dibatalkan untuk menghindari peristiwa sebelumnya. (mad/nrl)











































