Diceritakan dalam buku Hercules Sang Penjelajah yang diterbitkan Skadron Udara 31, lapangan terbang Wamena pada tahun 1970 hanya bisa didarati oleh pesawat ringan kelas Cessna-185 saja. Daerah tersebut sangat terasing. Padahal saat itu, pemerintah sedang gencar ingin membangun wilayah terpencil tersebut.
Akhirnya, TNI AU diberi tanggung jawab untuk melaksanakan program angkutan alat berat ke Wamena. Menggunakan pesawat Hercules C-130, sejumlah peralatan berat seperti buldozer, mesin giling dan peralatan lainnya diterjunkan dengan payung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah landasan diperpanjang, maka pesawat besar yang pertama kali mendarat di Wamena adalah pesawat T-1305 dengan captain pilot O.H Wello," demikian kutipan di buku tersebut, Jumat (3/7/2015).
Mantan KSAU Marsekal (purn) Chappy Hakim menceritakan kisah serupa di atas lewat akun twitternya @chappyhakim. Dia mengutip buku yang ditulis dalam biografi mantan KSAU Marsekal Sukardi berjudul Saatnya Berbagi Pengalaman dan Rasa.
Menurut catatan tersebut, pembangunan Wamena juga dibantu oleh para prajurit Yon Zipur Kostrad yang diterjunkan dari pesawat C-130B. Setelah itu, baru peralatan-peralatan kerja seperti alat pemecah batu, kendaraan kecil seperti Jeep yang dipreteli dan lainnya. Dampaknya sangat luar biasa. Wamena pun bisa lepas dari keterasingan hingga sekarang.
"Dampaknya, komunikasi menjadi semakin lancar dan kehidupan masyarakat di wilayah itu semakin terbuka dan hidup," demikian tulis Chappy dalam twitternya. (mad/nrl)











































