Dikutip dari buku 'Hercules sang Penjelajah' yang diterbitkan oleh Skadron 31, salah satu kesatuan khusus yang menangani pesawat Hercules di Indonesia, peristiwa ini berlangsung pada akhir tahun 1959. Bung Karno saat itu sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat (AS).
Nah, di sela-sela dialog antara keduanya, Presiden Kennedy menyampaikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bung Karno karena telah membebaskan seorang penerbang bayaran dari CIA yang ikut mendukung pemberontakan Permesta yaitu, Allan Lawrence Pope. Kala itu, Pope ditembak jatuh dalam duel udara dengan Kapten Udara Penerbang Ign Dewanto, dan sempat ditahan oleh pasukan Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendapat tawaran hal tersebut, Bung Karno langsung menyebut rencana pembelian pesawat Hercules. Pesawat tersebut sudah lama dibutuhkan oleh Angkatan Udara sebagaimana disampaikan oleh Menteri/Pangau Laksamana Udara Suryadarma.
"Sebetulnya saya lagi butuh pengganti pesawat-pesawat angkut berat untuk memperkuat di kesatuan Angkatan Udara. Saya pernah dengar yang namanya pesawat Hercules, seperti apa ya bentuknya?" jawab Bung Karno menanggapi tawaran Kennedy.
dokumentasi Repro Hercules Sang Penjelajah |
Tak lama kemudian, Bung Karno dibawa oleh Kennedy ke pabrik Lockheed dan Indonesia diizinkan untuk membeli 10 pesawat C-130 Hercules tipe B yang terdiri dari 8 pesawat kargo dan 2 pesawat tanker beserta suku cadang dan peralatan lainnya. Sekadar informasi, pesawat yang jatuh di Medan, Sumatera Utara, juga memiliki nomor seri C-130 tipe B.
"Itu menunjukkan bahwa saat itu bangsa Indonesia disegani dan memiliki posisi tawar yang kuat di mata negara Amerika Serikat," ucap Marsma Teguh David di dalam buku tersebut.
Kisah Bung Karno dan barter tahanan CIA ini juga pernah diulas sebelumnya. (Baca juga: Taktik barter Sukarno melawan CIA)
(mad/nwk)











































dokumentasi Repro Hercules Sang Penjelajah