"Ngobrol saja," kata Novanto di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2015).
Soal reshuffle, Novanto menyatakan Ical masih sebatas menanyakan. Ini karena reshuffle kabinet adalah hak prerogatif Presiden Jokowi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Novanto menyatakan, dia selaku Pimpinan DPR dan partai politik juga sudah menyampaikan ke Jokowi soal masukan-masukan untuk memaksimalkan pemerintahan. Masukan itu berupa evaluasi pemerintahan.
"Tentu kita juga punya suatu evaluasi-evaluasi daripada para menteri-menteri itu. Kalau presiden ngobrol kita juga menyampaikan beberapa menteri yang perlu digenjot lagi. Kalau milihnya kan tentu hak beliau (Jokowi)," tutur Novanto.
Novanto tak merinci menteri-menteri apa saja yang perlu digenjot lagi, hanya saja sektor ekonomi menjadi sorotan. Pengaruh ekonomi dunia juga turut dipertimbangkan.
"Karena ekonominya merosot, masalah ekonomi dunia kan juga sekarang negara-negara berkembang inflasinya turun 8,3 persen. Yunani membayar IMF US$ 1,3 miliar tidak mampu," kata dia.
Hubungan Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) juga menjadi pembicaraan antara Novanto dengan Ical yang sama-sama politisi Golkar ini. Bila hubungan antara dua koalisi baik, maka sinergi antara pemerintah dengan DPR bisa berjalan baik dan pemerintahan bisa lebih efektif bekerja.
"Tentu harus diharapkan bagaimana Pak Jokowi ingin ada kemajuan delapan bulan berjalan, dengan sisa-sisa yang sekarang ada itu, para menterinya itu tentu diharapkan bersinergi antara pemerintah dengan DPR," tutur Novanto.
Selain itu, Novano dan Ical berbicara soal perkembangan kebijakan jelang lebaran, sampai masalah kemiliteran. Soal alat utama sistem pertahanan negara (alutista) juga dibicarakan.
(dnu/dhn)











































