"Harapannya dipilih atau terpilih orang-orang yang minimal seperti periode ketiga, the dream team," kata Samad usai pemeriksaan di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (2/7/2015).
Menurut Samad, seorang pimpinan KPK yang progresif pasti menanggung risiko berat. Dia bisa dicopot dari tugasnya meski massa tugas belumlah berakhir. Dia mencontohkan dirinya yang tengah terbelit kasus dan juga Antasari Azhar.
"Pimpinan KPK bisa mulus sampai akhir jabatan tidak dikenakan kriminalisasi dan tidak diobrak-abrik kalau jadi pimpinan yang biasa saja. Tapi kalau jadi pimpinan yang progresif dalam memberantas korupsi pastilah kita dihabisi," ujarnya.
"Kasus Antasari kan begitu. Berkaca lah kita pada kasus Antasari. Apapun bisa diadakan, kan gitu," imbuhnya.
Lalu, progresif seperti apa yang dimaksud?
"Ya seperti periode ketiga," jawabnya.
Terkait dengan calon dari polisi aktif dan purnawirawan, Samad memberikan dukungan. Asalkan, mereka memiliki kepemimpinan progresif. "Saya mendukung siapa saja asal bisa jadi pimpinan KPK yang progresif. Siapa saja mau dari polisi atau jaksa enggak masalah," ujarnya. (ahy/dra)











































