Hal itu dituangkan Zuly Qodir yang mengelaborasi pemikiran-pemikiran Buya Syafii Maarif dalam buku 'Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Syafii Maarif'. Zuly menulis dalam salah satu sub bab berjudul 'Ziarah Iman Cendekiawan-Negarawan: Neo-Jihad Antar-Iman'.
Zuly, menyarikan pikiran Buya Syafii, mengatakan berbagai kasus kekerasan antaragama dan internal agama, membutuhkan perhatian serius semua pihak agar bangsa ini tidak terpuruk karena pertikaian berdasarkan atau atas nama agama. Pemahaman inklusif (terbuka) dalam beragama dan mengembangkan sikap toleran dapat dikembangkan di Indonesia agar keberagamaan masyarakat kita tidak berada dalam kerangkeng eksklusivisme.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan antaragama yang dilakukan di antaranya adalah gerakan pemberantasan korupsi yang dikumandangkan tahun 2003
bersama NU di bawah Hasyim Muzadi. Kemudian menggandeng Kristen, Katolik, Hindu, Buddha serta Konghucu dengan dukungan Partnership Indonesia di bawah HS Dillon, merupakan gerakan yang sangat penting dicatat bangsa ini sebab korupsi di
negeri ini bagaikan kanker yang akut.
Gerakan perdamaian yang digagas Buya Syafii Maarif untuk Indonesia dan dunia senantiasa pula dikerjakan dalam kaitannya dengan politik global. Buya Syafii Maarif selalu mengkritik dengan keras kebijakan politik Amerika di bawah George Walker Bush, presiden yang dilihatnya tidak tulus dalam memberikan kebijakan luar negerinya.
"Tak dapat dipungkiri, gerakan tokoh lintas agama merupakan sebuah gerakan kemanusiaan berpengaruh di Indonesia yang
dihidupkan oleh para tokoh elite dari berbagai agama di Indonesia. Buya Syafii merupakan salah satu tokoh kunci dari gerakan ini," ujar Zuly Qodir.
Penting untuk dicatat, kata Zuly, adalah gerakan ini telah turut mewarnai kehidupan beragama di Indonesia yang beragam ini menjadi lebih harmonis dan hidup saling berdampingan. Peran para tokoh agama sebagai jangkar perekat
keutuhan umat dan masyarakat dirasakan sangat penting untuk meredam berbagai potensi konflik yang terjadi di kalangan masyarakat serta sangat penting untuk memperkuat bangunan perdamaian di Indonesia.
(faj/nrl)











































