Hal itu disampaikan oleh Dr Ahmad Rafiq dalam siaran menjelang berbuka puasa di stasiun radio multikultural 5EBI 103.1 FM Australia Selatan, Rabu (1/7). Lulusan Program Doktoral Department of Religion di Temple University Amerika (2014) itu mendorong agar gagasan Islam Nusantara yang tengah dikembangkan para cendekiawan dan tokoh-tokoh Islam Indonesia bisa diterima dengan baik oleh umat Islam.
"Gagasan Islam Nusantara lebih merupakan cara berpikir yang hadir di tengah realitas ekspresi keberagamaan yang berbeda-beda, karena mengikuti lokalitas masing-masing, dengan tetap mengacu pada nilai-nilai universal agama," kata ahli tafsir al-Quran ini seperti tertuang dalam keterangan pers Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU ANZ), Kamis (2/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiai yang mengampu beberapa majelis ta’lim di wilayah Sleman ini menilai bacaan al-Qur’an langgam Jawa, yang beberapa waktu lalu sempat menjadi kontroversi ketika ditampilkan di Istana Negara, merupakan fakta yang tidak terhindarkan ketika Islam hadir dalam lokalitas yang sudah menjadi daily life dari masyarakat Indonesia.
"Membaca al-Quran dengan langgam Jawa, seperti halnya langgam Persia, Mesir dan lainnya, bisa diterima selama tidak melanggar tajwid, makhraj dan mad yang menentukan bunyi bacaan dan makna. Sebaliknya, sekalipun menggunakan langgam Arab ataupun Mesir tetapi melanggar tajwid, makhraj dan mad, itu jelas menyalahi standar bacaan al-Quran yang benar," tegas Ahmad Rafiq yang sudah bertahun-tahun terlibat dalam penelitian agama-agama lokal di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCINU ANZ Tufel Musyadad yang mendampingi siaran menuturkan, sejak awal Ramadan Ahmad Rafiq didaulat PCINU menyebarkan Islam rahmatan lil‘alamin di Sydney, Melbourne, Brisbane dan beberapa hari ini di Adelaide. Lawatan akan berlanjut ke negara bagian lainnya, Canberra dan Perth, juga menyeberang ke beberapa kota di New Zealand.
"Dihadirkannya kiai Ahmad Rafiq dalam Ramadan kali ini adalah bagian dari misi PCINU ANZ, membumikan Islam di Australia," ujarnya.
Radio dengan misi 'hear a world of difference' ini menyediakan slot siaran satu jam program Indonesia yang diberi nama Radio Indonesia South Australia (RISA) setiap hari Rabu pkl. 17.00-16.00. April lalu PCINU ANZ juga menghadirkan kiai M. Luqman Hakim sebagai narasumber siaran dengan tema serupa.
Tufel sebagai salah satu pemandu siaran RISA di 5EBI mengatakan, program kerjasama yang dirintis sejak 2004 ini menjadi wadah informasi seputar tanah air terkait isu-isu politik, budaya dan keagamaan yang menjunjung semangat penghargaan dan perdamaian atas perbedaan. Selain RISA, stasiun radio 5EBI 103.1 FM membawahi sekitar 45 anggota radio komunitas dari berbagai negara Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Celebrating Our Diversity menjadi slogan 5EBI (berdiri tahun 1975) dalam memperingati usianya yang ke-40.
Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda. (khf/nrl)











































