Hal itu merupakan pokok pikiran Buya Syafii yang ditafsirkan dan dielaborasi oleh Sudirman Nasir dalam buku 'Muazin Bangsa dari Makkah Darat: Biografi Intelektual Syafii Maarif'. Sudirman bersama penulis lain memaparkan gagasan-gagasan Buya Syafii.
Dikatakan, Sudirman, Buya Syafii selama ini konsisten menyuarakan kritik-kritik tajam terhadap ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi serta praktik-praktik politik yang kumuh di Indonesia. Buya menyoroti masih tingginya penyelewengan kekuasaan dalam bentuk korupsi maupun penelantaran oleh negara.
caption-here.. |
Di sisi lain, Buya Syafii secara terang benderang menunjukkan bahwa ajaran-ajaran Islam sangat menekankan pengutamaan keadilan sosial, penghormatan terhadap pluralisme, pengurangan perlakuan-perlakuan dan kebijakan-kebijakan diskriminatif serta pembelaaan terhadap kelompok-elompok terpinggirkan.
"Buya Syafii juga tidak henti-hentinya mengingatkan supaya Islam kita jadikan sebagai sumber
inspirasi untuk mewujudkan kebajikan-kebajikan sosial bagi seluruh umat manusia dan lingkungan sekitarnya (rahmatan lil alamin). Penghormatan terhadap manusia dan kemanusiaan di mana derajat kesehatan yang baik adalah salah satu unsur utamanya," ujar Sudirman yang merupakan staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Unhas ini.
Menurut Sudirman, konsistensi Buya Syafii untuk menyuarakan perlunya kehadiran negara dalam mengatasi masalah- asalah struktural seperti kemmiskinan, kesenjangan ekonomi dan keterasingan sosial sangat relevan pula dengan tuntutan banyak lembaga kesehatan inter nasional. Intervensi negara ini penting karena faktor-aktor yang berpengaruh terhadap kesehatan tidak selalu bisa diselesaikan oleh individu-ndividu, terhadap banyak faktor yang berada di luar kontrol individu namun sangat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan kesehatan masyarakat.
Buya dalam pemikirannya seperti dielaborasi Sudirman menyatakan, pendekatan yang terlalu bertumpu pada individu sering kali mengabaikan determinan-determinan sosial di atas dan menimpakan seluruh tanggung jawab untuk peningkatan dan pemeliharaan kesehatan semata pada individu. Pendekatan ini bahkan tidak jarang menyalahkan individu atas penderitaan, keterpinggiran dan buruknya kondisi kesehatan yang mereka alami. Cara pandang yang bukan saja dianggap Buya, tidak memiliki basis ilmiah yang kuat tetapi juga secara moral.
Negara-negara seperti Srilangka dan Kuba, negara-negara berkembang yang berhasil memiliki derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik lewat pendekatan struktural dalam mengatasi determinan-determinan sosial di atas, sering kali dirujuk sebagai contoh nyata pentingnya pendekatan struktural dan kehadiran negara dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Seruan moralitas tokoh-tokoh seperti Buy Syafii untuk terus menerus mengadvokasi pentingnya negara dan masyarakat memberikan perhatian lebih besar untuk menanggulangi determinan-determinan
sosial sangat diperlukan.
"Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah Buya Syafii secara personal telah memberikan contoh teladan lewat kehidupan sehari-harinya sebagai sosok yang dapat mencapai usia yang cukup lanjut dengan kondisi kesehatan yang relatif terjaga, dengan produktivitas yang tinggi serta sumbangan yang sangat besar bagi kemanusiaan. Indonesia sungguh beruntung memiliki tokoh-okoh inspiratif seperti Buya Syafii," kata Sudirman.
(faj/nrl)












































caption-here..