Puasa di Glasgow, Kolak Pisang hingga Gorengan Obat Rindu Kampung Halaman

Ramadan 2015

Puasa di Glasgow, Kolak Pisang hingga Gorengan Obat Rindu Kampung Halaman

Yassa Ardhi Ganie - detikNews
Kamis, 02 Jul 2015 11:30 WIB
Puasa di Glasgow, Kolak Pisang hingga Gorengan Obat Rindu Kampung Halaman
Glasgow Central Mosque (Foto: glasgowdoorsopenday.com)
Glasgow - Waktu berpuasa di Glasgow-Skotlandia jauh berbeda dengan kebiasaan kami di Indonesia. Di sini, kami mulai berpuasa hampir 20 jam. Dimulai sejak pukul waktu Subuh di pukul 02.45 hingga adzan Maghrib di pukul 22.14.
Β 
Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa khawatir meliputi kami ketika hendak memasuki bulan Ramadan. Mampukah kami menahan hawa nafsu selama hampir sehari penuh, ditambah Glasgow saat ini sedang berada di musim panas?

Alhamdulillah, sejak hari pertama puasa di bulan Ramadan ini, tidak ada keluarga besar pelajar Indonesia di Glasgow yang mengalami hambatan dalam menjalankan ibadah puasa. Kami tetap beraktivitas sebagaimana biasa dan senantiasa mengisi waktu dengan ibadah yang juga kami lakukan ketika kami berada di Indonesia. Di siang hari kami menggali ilmu untuk mengejar dead-line disertasi, namun tidak meninggalkan kesempatan untuk melaksanakan salat tarawih berjemaah.

Ya, meskipun waktu berpuasa kami jauh berbeda, ritual yang kami jalankan tidak jauh berbeda dengan kebiasaan di Tanah Air. Hampir setiap hari kami melakukan buka puasa bersama dengan menu khas Nusantara. Kolak pisang, cireng, gorengan, dan teh manis menjadi menu andalan berbuka puasa di Glasgow. Hal itu terkadang tidak terasa bahwa kita berada jauh dari kampung halaman kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walau waktunya berjalan lebih lama, berpuasa di Skotlandia tidak terasa seberat yang dibayangkan. Meskipun sedang memasuki musim panas, suhu udara di sini rata-rata masih berada di bawah 20 derajat celcius. Maklumlah, karena posisi yang di utara, Skotlandia menjadi daerah yang dikenal paling dingin di Inggris Raya. Dengan demikian, meski berpuasa sehari-hari kami tetap ditemani oleh cuaca yang sejuk. Alhamdulillah.

Umat Islam di Glasgow memang minoritas, tidak seperti di Indonesia. Meski demikian, kemeriahan dan keagungannya tidak kalah dengan di negara lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Masjid di Glasgow secara rutin melaksanakan buka bersama maupun salat tarawih berjemaah yang dilanjutkan dengan makan sahur di masjid.

Sementara itu, pejabat pemerintahan seperti First Minister Nicola Sturgeon turut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Muslim di Skotlandia atas datangnya bulan suci Ramadan. Sebuah pengakuan bahwa ada yang berbeda dengan hadirnya bulan Ramadan, khususnya bagi umat Islam di seluruh dunia. Meski demikian, secara umum memang tidak ada yang berbeda dengan aktivitas keseharian pada bulan-bulan lainnya. Toko makanan maupun restoran tetap beroperasi seperti biasa dan tidak ada dispensasi jam kerja bagi yang berpuasa.

Kami di Glasgow maupun Skotlandia pada umumnya memang tidak memiliki luxury untuk menikmati Ramadan seperti halnya di Indonesia. Namun kami menjadi sadar bahwa aktivitas keseharian dan perbedaan kondisi lingkungan tidak boleh menjadi penghalang bagi kami untuk menunjukkan ketakwaan. Determinasi kami untuk meraih berkah Ramadan tidak boleh berhenti walaupun kondisi lingkungan dianggap β€œtidak mendukung”.

Bukankah di dalam Islam diajarkan bahwa apapun kegiatan kita hendaknya diniatkan sebagai ibadah? Jika demikian mengapa menyurutkan β€œibadah-ibadah” yang biasa kita jalankan di bulan lain ketika datang bulan Ramadan? Kami juga belajar bahwa kenikmatan Ramadan tidak ditentukan oleh di mana kita berada ataupun lamanya kita berpuasa, tetapi bagaimana kita senantiasa istiqamah dalam menjalaninya dengan keikhlasan dan ketaqwaan.

Salam hangat dari Glasgow.

*) Yassa Ardhi Ganie adalah anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Glasgow yang sedang menjalani pendidikan di University of Glasgow.

*) Artikel ini terselenggara atas partisipasi dari PPI Dunia

Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda.
Halaman 2 dari 1
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads