"Hercules itu pesawat angkut TNI AU, fungsinya untuk bantuan tempur, misalnya mengirim prajurit, bantuan logistik sepert mengirim perlengkapan senjata atau tank, lalu bawa beras dan sebagainya. Lalu ada bantuan administrasi. Bantuan administrasi itu dalam keadaan damai biasanya untuk pergeseran tugas para prajurit dari sini jaga di sana, yang pulang jaga diangkut. Nah, biasanya ada anggota keluarganya yang ikut," kata Hasanuddin kepada detikcom, Kamis (2/6/2015).
Hasanuddin yakin kemungkinan adanya penyusup dalam arti penumpang di luar keluarga TNI sulit. Karena harus ada izin dari Komandan Lanud dan syarat lain yang cukup rumit. Sementara untuk kepentingan perpindahan tugas TNI, kepentingan evakuasi bencana dan lainnya terbuka lebar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasanuddin yakin di zaman sekarang tak ada komersialisasi pesawat Hercules. Apalagi sampai membayar Rp 900 ribu untuk terbang dengan Hercules di saat penerbangan sipil sudah banyak.
"Kalau zaman dulu bisa jadi iya ketika penerbangan sipil masih kurang. Kalau sekarang saya tidak yakin apalagi ngasih Rp 900 ribu dan ujung ke ujung. Pelayanan pakai maskapai lain yang murah cuma Rp 600 ribu. Jadi menurut saya tidak masuk akal," katanya.
"Yang kedua juga biasanya nggak berani kalau tidak ada saudaranya yang militer, apalagi tempat duduk di Hercules itu bukan pakai bangku tapi pakai anyaman plastik berjejer dari depan ke belakang, berhadap-hadapan nempel di dinding pesawat, jadi hanya berhadap-hadapan. Jadi saya tidak yakin ada orang mau bayar mahal buat ikut Hercules yang jadwalnya nggak pasti terbangnya kapan," pungkasnya.
(van/nrl)











































