Acara pelepasan berlangsung di lapangan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM, Rabu (1/7/2015) sore. Turut hadir dalam acara pelepasan itu Dirjen Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum (PU), Andreas Suhono, Rektor UGM, Rektor UGM Prof Ir Dwikorita Karnawati, MSc, PhD.
Menteri Sosial RI Khofifah Indah Parawansa dihadapan ribuan mahasiswa UGM mengatakan ada berbagai macam persolan sosial di daerah perbatasan. Salah satunya adalah masih adanya kultur anak yang dinikahkan saat usia dini. Ada banyak anak yang dinikahkan tanpa dicatatkan resmi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, persolan sosial di berbagai daerah memiliki banyak varian. Dia mencontohkan kasus masyarakat perbatasan mengalami kebingungan dalam hal urusan perdagangan dengan negara tetangga.
"Di Entikong, mereka sering membandingkan. Mereka punya karet dengan harga lebih murah. Di Serawak harga lebih tinggi tapi tidak bisa jual ke negeri tetangga. Bahkan gula putih lebih mahal ketimbang dengan negeri tetangga dan tidak bisa membeli langsung," katanya.
Khofifah mengatakan perbedaan kultur masyarakat bisa menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa untuk menjelaskan kepada masyarkat. Mereka harus tahu ada regulasi-regulasi.
"Adik-adik harus tahu masalah itu. Hal seperti ini pembelajaran yang luar biasa," katanya.
Menurutnya kekhawatiran Rektor UGM akan perasaan homesick karena akan tinggal di tempat KKN selama dua bulan akan sirna. Oleh karena seluruh daerah Indonesia itu adalah tempat yang luar biasa.
"Homesick kalian saat pertama datang akan sirna saat mengenali Indonesia yang sesungguhnya dan luar biasa. Tetap kibarkan merah putih di sana. Kami harap anda tetap kerasan dan betah di sana karena akan membangun interaksi dengan masyarakat," tegas Khofifah langsung disambut tepuk tangan mahasiswa.
Sementara itu Rektor UGM, Prof Dwikorita mengatakan program kuliah kerja nyata merupakan kegiatan sudah berlangsung sejak lama, dimulai sejak 1971 atau telah berusia lebih dari 40 tahun. Program KKN ini sudah menjadi mata kuliah wajib yang harus diikuti mahasiswa sebelum lulus.
"Dalam pemilihan tema program tidak dilakukan sembarang namun berdasarkan riset. 'Sejak 2006 melakukan KKN-PPM berdasarkan tema misalnya ada program khusus pemberantas buta aksara, mitigasi bencana dan lain-lain,'' katanya.
Dia mengatakan ada beberapa tim mahsiswa juga ditempatkan di daerah perbatan seperti di Entikong Kalimantan, dan Atambua NTT. ''Di Atambua akan melakukan kegiatan resolusi konflik. Demikian juga di Kalimantan Utara dan di perbatasan lainnya,'' katanya.
Dalam KKN-PPM ini mahasiswa akan ditempatkan di Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Sarat, Sumatera, Aceh, Kalimantan, DKI, Jawa Tengah, DIY, Sulawesi, Jawa Barat, NTB, NTT, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Bali dan Jawa Timur.
Tidak hanya mahasiswa UGM, Program KKN PPM UGM juga diikuti 24 mahasiswa asing yang kuliah dan 49 mahasiswa dari luar negeri tercatat beberapa Universitas yang mengikutkan mahasiswanya mengikuti kegiatan ini diantaranya universitas teknologi Malaysia, Hanseo University Korea, Shizuoka University, Aoyama Gakuin University, Ibaraki University, Queensland University dan Lehigh University (USA).UGM juga mengirimkan ribuan buku-buku yang akan dibagikan di seluruh pelosok Indonesia bersamaan dengan program KKN-PPM. (bgs/ega)











































