DBD di Jateng 337 Kasus, 11 Orang Meninggal
Senin, 21 Feb 2005 18:10 WIB
Semarang - Dalam kurun waktu 6 minggu, Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menjangkiti 337 orang di Jawa Tengah (Jateng). Sebanyak 11 orang menjadi korban.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng Krishnajaya menegaskan, meski ada korban jiwa, tak perlu ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di Jateng. Pasalnya, jumlah kasus dan korban dinilai menurun dibanding tahun lalu.Krishna mencontohkan, jumlah kasus demam berdarah di Jawa Tengah pada tahun 2002 pada minggu 1-6 ada 1.545 kasus dengan 23 orang meninggal. Kemudian pada tahun 2003 pada waktu yang sama ada 1.275 kasus dengan 22 orang meninggal. Lalu pada tahun 2004 ada 2.401 kasus dengan angka kematian mencapai 53 orang."Jumlah kasus dan angka kematian sangat kecil dibanding tahun lalu. Jadi tidak perlu adanya pernyataan KLB di Jateng," tandasnya dalam jumpa pers di Kantor Dinkes Jateng, Jl. Pierre Tendean Semarang, Senin (21/2/2005).Dikatakan Krishna, pihaknya merasa risau dengan tayangan media televisi yang menayangkan kasus demam berdarah di Jakarta. Masyarakat tidak mengerti kenapa demam berdarah itu menyerang wilayahnya. Padahal hal itulah yang paling penting diungkap."Misalnya, apakah pemberantasan sarang nyamuk itu sudah dilakukan atau belum. Kalau belum, wajar jika DB menyerang. Fogging tidak mengatasi masalah. Yang terpenting justru pemberantasan sarang nyamuk itu," terangnya.Untuk mengatasi DBD di Jateng, lanjut Krishna, pada tahun 2003 Dinkes menerjunkan 187 petugas pemantau jentik di 562 desa. Jumlah itu ditambah menjadi 1.111 pada tahun 2004 yang harus memantau 418 desa. Hingga sekarang, tim itu terus bekerja.Krishna yang didampingi beberapa stafnya mengatakan, hasil kerja para pemantau jentik itu ternyata bisa menekan keberadaan sarang nyamuk. Dari 32 kabupaten yang dipantau, 18 kabupaten mendapat angka bebas jentik 87,1 persen, sementara 14 kabupaten lainnya masih di bawah angka 85 persen."Daerah bebas jentik adalah Temanggung yang mencapai angka 98,3 persen, sementara daerah yang terparah adalah Boyolali sebesar 73,14 persen," ungkapnya.Sementara itu, kasus diare jenis Leptospiroris, pihak Dinkes belum menerima laporannya hingga pertengahan Februari ini. Kasus Leptospiroris ditemukan di Kota Semarang pada tahun 2004 sebanyak 26 kasus, enam orang meninggal.Di beberapa rumah sakit di Semarang sejak Januari lalu sudah dipenuhi oleh penderita diare. Dalam sehari, misalnya, RS Roemani maupun RS Telogorejo pernah menerima puluhan pasien diare. "Itu diare biasa. Meski jumlahnya cukup banyak, penanganannya tidak sulit kok," kata Waka Dinkes Jateng Budihardja.
(nrl/)











































