Dua putri Sahat, Ester Lina Yoshepin dan Rita Yunita ikut serta dalam penerbangan nahas itu. Ester tercatat sebagai siswi kelas 3 SMA Budi Murni dan Rita duduk di bangku SMP Santo Ignatius Medan.
Menurut Sahat yang bertugas sebagai TNI di Natuna itu, Ester mengaku telah rindu dan ingin segera bertemu dengan kedua orangtuanya. Sahat juga telah melarang. Namun Ester dan adiknya tetap berangkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sahat juga sempat mencoba menghubungi Ester melalui sambungan telepon pada pagi hari sebelum penerbangan nahas tersebut. Namun telepon Sahat tidak diangkat.
"Udah ku telpon-telpon dari pagi, tak pernah diangkat-angkat orang itu (Ester dan Rita)," katanya.
Siang tadi sekitar pukul 12.35 WIB, keluarga dan kerabat Ester Lina Yosephin (17) dan Rita menangis histeris saat melihat isi kantung jenazah yang terletak di pelataran ruang jenazah.
"Esteer!" ujar salah seorang anggota keluarga sambil terisak.
Pendidik Ester di SMA Santo Ignatius Medan bernama Tarcisia Hemas KSSY mengutarakan, dia terakhir kali bertemu Ester pada 20 Juni 2015 lalu saat ada pesta kaul atau merayakan hidup membiara di sekolahnya. Pesta itu juga bertepatan dengan pembagian rapor.
"Besoknya, tanggal 21 Juni Ester ulang tahun ke 17," jelas Suster Tarcisia.
Ester bersama adiknya yang bernama Rita Yunita di penerbangan nahas tersebut. Mereka yang merupakan putri dari seorang prajurit TNI itu berencana ke Natuna karena ingin liburan.
"Ester aktif, pintar bernyanyi," tuturnya menjelaskan sosok Ester. (idh/dhn)











































