"Malam hari sebelum berangkat ke Medan mas Wawang (panggilan akrab Peltu Kohar) sempat telepon ibunya. Katanya tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi ibunya yang sudah tua. ‘bu! saya terbayang ibu terus, apa ibu sakit?’. Ibunya kebetulan sehat. Kemudian mas Wawang pamit kalau akan terbang ke Medan," kata saudara sepupu Peltu Kohar, Miftakhul Jannah, sembari menirukan ucapan almarhum saat berdialog dengan detikcom di rumah duka di Dusun Gedeg Kulon, Desa/Kecamatan Gedeg, Mojokerto, Rabu (1/7/2015).
Tak ada yang menyangka, percakapan melalui telepon itu menjadi percakapan yang terakhir kalinya antara Peltu Kohar dengan ibunya. Peltu Kohar menjadi salah satu korban pesawat Hercules C 130 milik TNI AU yang jatuh di Medan, Sumatera Utara, Selasa (30/6) sekitar pukul 11.50 Wib. Dia meninggalkan istrinya Istibsyaroh (41) dan 2 orang putrinya, yakni Firda yang baru naik kelas XII SMA, dan Dila yang baru naik kelas V SD di Malang.
Peltu Kohar dan istrinya lahir di Dusun Gedeg Kulon, Desa Gedeg. Sejak menikah, keduanya hijrah dan tinggal di asrama militer Skuadron 32 Pangkalan Udara Abdurrahman Saleh, Malang. Jenazah juru mesin pesawat Hercules ini akan dimakamkan di kampung halamannya, yakni di TPU Desa Gedeg berdampingan dengan makam ayahnya, almarhum Abu Darin.
"Saat menghadiri pernikahan adiknya yang terakhir 3 bulan lalu, mas Wawang sempat berguarau kalau meninggal minta dimakamkan dekat dengan makam ayahnya," ungkap Miftakhul Jannah.
Sebagai putra pertama dari 6 bersaudara, lanjut Miftakhul, Peltu Kohar mewarisi karakter ayahnya yang merupakan purnawirawan TNI AL. Pilihan karirnya sebagai anggota TNI AU sebagai bukti keinginan Peltu Kohar untuk meneruskan jejak sang ayah. "Dulu saya yang membantu membuatkan surat lamaran saat mau mendaftar ke TNI. Awalnya mas Wawang mau masuk ke TNI AD namun gagal, kemudian beralih ke TNI AU," sebutnya.
Sementara kerabat Peltu Kohar lainnya, Rifai (59) menuturkan, almarhum dikenal sebagai sosok yang ramah dan suka berbagi. Kebaikan Peltu Kohar kepada semua orang dekatnya, membuat keluarga dan tetangga merasa sangat kehilangan. "Kami sekeluarga sangat terpukul karena almarhum sosok yang baik, setiap pulang sering membagikan oleh-oleh. Disini terkenal baik," tuturnya. (bdh/try)











































