Suasana Haru Selimuti Kompleks Perumahan TNI AU di Malang

Tragedi Hercules

Suasana Haru Selimuti Kompleks Perumahan TNI AU di Malang

Muhamad Aminuddin - detikNews
Rabu, 01 Jul 2015 01:17 WIB
Suasana Haru Selimuti Kompleks Perumahan TNI AU di Malang
Malang - Musibah menghampiri Skadron 32 Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh. 12 awak Hercules C130 jatuh di Medan, Sumatera Utara, adalah prajurit di markas pesawat Hercules itu. Kesedihan tidak terhindarkan di kediaman masing-masing awak pesawat. Keluarga hanya bisa pasrah atas tragedi ini.

Hercules C130 dengan nomor penerbangan A-1310 berangkat dari Abd Saleh pada 29 Juni 2015 dan kembali menjalankan tugas sampai 2 Juli 2015. Siapa sangka, para awak tidak kembali, dan justru mengalami musibah saat penerbangan.

Kesedihan mendalam itu nampak di rumah Pembantu Letnan Satu (Peltu) Ibnu Kohar, yang beralamat di Komplek Perumahan Kertanegara No. C-31, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumah di kompleks perumahan milik TNI AU tersebut, nampak sepi. Hanya kursi-kursi kosong yang ditata berjajar rapi di luar rumah. Semuanya disiapkan bagi siapa saja yang ingin datang memberikan dukungan kepada keluarga atas kejadian itu.

Istri dan kedua putri Peltu Ibnu Kohar, tidak kuat untuk keluar rumah. Mereka sangat bersedih, dan berada di dalam kamar.

“Ibunya sangat terpukul atas kejadian ini. Putri-putrinya juga hanya bisa menangis di kamar. Mereka berharap, tidak terjadi apa-apa dengan ayah yang mereka sayangi,” ujar salah satu tetangga Ibnu, Syahdu kala ditemui media, Selasa (29/6/2015).

Sama halnya, Afriana (19), anak kedua dari Pembantu Letnan Dua (Pelda) Agus Pur, juga salah satu awak Hercules C130 itu mencoba tegar menghadapi kabar tentang kecelakaan yang menimpa ayahnya tersebut.

Wajah sedih tidak bisa disembunyikan menahan sedih karena peristiwa yang dialami orang tuanya.

Pada hari Minggu (28/6) sebelum berangkat bertugas, ada pertanda aneh yang dilakukan bapaknya.

Bintara yang bertugas sebagai Load Master Pesawat Hercules C-130 itu, tiba-tiba menyerahkan buku tabungan kepada istrinya.

"Kata bapak saya. Semua tabungan ini buat ibu. Biasanya saya juga sering dimarahi, tetapi dua hari terakhir sama sekali tidak dimarahi, dan hanya diam saja," ucapnya ditemui terpisah.

Sebelum mendengar kabar tentang kecelakaan pesawat tersebut, Afriana sempat bertanya tentang kabar bapaknya kepada ibunya.

Tetapi, ibunya tidak menjawab, dan hanya menyuruhnya untuk melihat siaran televisi sambil menangis. "Saya coba mengontak bapak, tetapi tidak ada jawaban. Biasanya, setiap saya kirim pesan, langsung dijawab," akunya seraya mencoba tegar.

Keluarga hanya menunggu proses dari penanganan kecelakaan pesawat tersebut. (rvk/rvk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini