Setiap menjelang waktu berbuka, belasan anak di Dusun Susukan Desa Nguling, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan datang ke pematang sawah. Mereka membawa alat semacam jedoran atau dikenal dengan meriam bunyi. Bukan terbuat dari bambu, meriam bunyi mereka terbuat dari kaleng bekas.
Jedor! Jeder! Suara yang berasal dari meriam kaleng bersahutan memecah keheningan persawahan. Kegiatan tersebut dilakukan bocah-bocah ini setiap hari di sore hari. Menjelang azan Magrib, bocah-bocah ini pun pulang ke rumah masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Permainan ini semakin seru karena anak-anak membuat sendiri meriam tersebut dari kaleng dan botol air mineral. Mereka biasanya saling membandingkan meriam siapa yang bunyinya paling keras.
"Mudah buatnya," tukas Dimas Setiawan, anak lainnya.
Kaleng dan botol air mineral, kata Dimas, dirangkai hingga memanjang dan membentuk meriam. Di salah satu bagiannya diberi penutup dari tutup botol air mineral dan kemudian diberi pemantik dari korek api.
"Tinggal diisi dengan spiritus," imbuhnya.
Cara memainkan meriam kaleng juga cukup mudah. Tutup botol dibuka, lalu disemprot spiritus dan dikocok-kocok. Selanjutnya tinggal menekan pemantik yang sudah dimodifikasi menempel di meriam.
"Tinggal dipencet langsung meledak," terang Dimas bersemangat.
Anda ingin mencoba? (bdh/rul)










































