Puasa di Parma, Untaian Ukhuwah dan Hidayah Gadis Italia

Ramadan 2015

Puasa di Parma, Untaian Ukhuwah dan Hidayah Gadis Italia

Masruri - detikNews
Senin, 29 Jun 2015 13:50 WIB
Puasa di Parma, Untaian Ukhuwah dan Hidayah Gadis Italia
(Foto: Masruri)
Parma - Berpuasa di negeri Eropa tahun ini memiliki tantangan tersendiri. Bulan puasa masuk pada musim panas di mana matahari terik dan siangnya yang lama. Pada hari kedua puasa, yaitu hari Jumat, waktu Subuh terjadi pada pukul 03.01 dan waktu Magrib pukul 21.08,Β  sehingga lamanya ibadah puasa sekitar 18 jam dalam satu hari.

Tantangan lainnya adalah secara sosial, muslim yang minoritas hidup di tengah-tengah masyarakat non muslim, pada musim panas gaya berpakaian penduduk lokal cenderung terbuka sehingga menuntut muslim yang berpuasa untuk dapat menjaga diri dengan menahan pandangan.

Jumat pertama dalam bulan Ramadan, muslim Parma di Italia menuaikan ibadah salat Jumat di Centro Islamico di Parma. Centro Islamico mampu menampung hingga 3.000 jamaah, lokasinya di bekas pabrik yang dibeli oleh muslimin Parma dan sekitarnya dan disulap menjadi masjid.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

(Foto: Masruri)


Namun berdirinya masjid ini tak berjalan mulus. Seorang pengusaha yang mempunyai pabrik di belakang masjid selalu mempermasalahkan kegiatan yang ada di masjid. Sehingga akhirnya masjid pun harus menghilangkan mihrab, ruangan harus dilengkapi dengan peredam suara, volume mikrofon harus minimal dan beberapa aturan lain supaya masjid tetap berdiri. Β 

Meski begitu, umat Islam di Parma tetap semangat menghidupkan kegiatan keagamaan. Seperti Jumat mubarak kali ini, para jamaah masjid berkumpul untuk salat Jumat. Usai Jumatan mereka menyaksikan seorang gadis Italia mengucap dua kalimat syahadat. Shekh Abdul Basith, imam dari Yaman, membimbing untuk mengucapkan syahadat.

(Foto: Masruri)


Tak hanya menjadi saksi syahadat seorang gadis Italia, puasa di hari pertama Ramadan 2015 ini juga diramaikan dengan undangan berbuka bersama teman Maroko.Β  Budaya saling mengundang makan merupakan kebiasaan muslim di Parma, bahkan di luar Ramadan. Bisa saja beberapa keluarga membawa makanan ke masjid (biasanya cous cous atau tajin) dalam piring besar untuk bisa disantap bersama-sama saudara-saudara muslim.

Menu pada buka puasa kali ini adalah menu khas Harira, sup tomat dan lentil khusus Ramadan, pastilla, masakan popular Maroko dan kadang dikatakan juga sebagai masakan khas Muslim Moro dari Spanyol Andalusia, fresh juice buatan sendiri, roti arab khubz dan baghrir, kurma dan kue manis asli Maroko berbasis madu dan mandorla (briouats, shebakia) dan yang tidak ketinggalan adalah teh hijau mint Maroko.

Maroko memiliki kekayaan Cuisine Mediterannian dan merupakan cuisine terbaik di dunia. Masakannya kaya dengan bumbu rempah-rempah dan kombinasi rasa yang lezat dan menarik. Kekayaan cuisine ini merupakan pengaruh dari kebudayaan Spanyol Andalusia, Arab dan Prancis, di samping budaya lokal seperti budaya Ber Ber (suku asli Afrika Utara).

Setelah buka puasa bersama, kami bersama-sama menuju masjid dengan menggunakan kendaraan pribadi untuk menunaikan ibadah salat Isya dilanjutkan dengan tarawih. Waktu salat Isya adalah pukul 23.27. Setelah salat sunnah rawatib, imam memimpin salat tarawih dua rakaat-dua rakaat.

Dilanjutkan dengan kultum selama 5 menit. Kemudian digantikan dengan imam yang lain (pengganti) selama dua rakaat-dua rakaat. Setelah itu Shekh Abdul Basith memimpin kembali untuk witir tiga rakaat, dua rakaat ditambah satu rakaat. Pada satu rakaat terakhir,Β  imam memimpin doa qunut untuk segala kebaikan kaum muslim dan juga kebaikan dunia Islam.

Lebih dari jam satu malam selesai dan kembali ke rumah, dan pukul 03.01 sudah Subuh kembali.

*) Masruri adalah Doktor dalam bidang Information Technologies, University of Parma, Italia, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Italia

*) Artikel ini terselenggara atas partisipasi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia

Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda.
Halaman 2 dari 1
(nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads