"Siang itu kebetulan lagi istirahat, saya baca info ada kebakaran rumah di salah satu kawasan Kota Bandung yang dikirim warga via jejaring sosial. Saya langsung melapor komandan dan teman untuk siap-siap berangkat," kata Bella saat berbincang bersama detikcom di markas, Jalan Sukabumi, Bandung, pekan lalu.
Begitulah sepenggal cerita pengalaman bapak dua anak tersebut soal partisipasi warga berbagi kabar api berkobar melalui @diskar_bdg. Akun tersebut diurus resmi DPPK Kota Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabid Pemadam DPPK Kota Bandung Yosep Heryansyah menilai kekuatan media sosial terasa dampak positifnya dalam membangun pola kerja anyar para pasukan penjinak api. "Sekarang kami justru rajin memantau situasi terkini Kota Bandung lewat Twitter, terutama informasi kebakaran. Kalau dulu kan kami menunggu kabar kebakaran dari penelepon," ujar Yosep yang merupakan salah satu admin @diskar_bdg.
Peristiwa kebakaran yang dikirim warga, sambung Yosep, sangat membantu petugas pemadam. "Informasi berupa tulisan dan foto-foto TK65 (kejadian kebakaran) kiriman warga menjadi jam weker yang mengingatkan kami segera bangun untuk melaksanakan tugas," tutur Yosep menambahkan.
Senada disampaikan Sekretaris Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung Didi Ruswandi. Hadirnya media sosial merupakan bentuk baru interaksi dua arah.
"Dulu kalau pengaduan seperti jalan rusak atau bolong lewat surat. Kalau saat ini warga bisa langsung kirim singkat informasinya ke akun Twitter kami," ucap Didi di kantor DBMP Kota Bandung, Jalan Cianjur.
Para pengguna media sosial begitu aktif menyampaikan keluhan, masukan dan apresiasi yang dikirim ke @dbmpkotabdg. Akun media sosial tersebut resmi dikelola DBMP Kota Bandung.
"Banyak relawan yang sering melaporkan kondisi jalan rusak, gorong-gorong mampet dan lampu jalan tak berfungsi. Misalnya laporan soal jalan rusak di satu kawasan, maka nantinya tim Unit Reaksi Cepat (URC) Penambal Jalan datang ke lokasi untuk memperbaiki," tutur Didi.
Menurut Didi, kehadiran media sosial makin memacu semangat kerja. Apalagi jika warga mengirim pesan dan foto kondisi jalan rusak ke @dbmpkotabdg.
"Jadi kami harus segera bertindak. Setelah kami perbaiki jalannya, banyak warga menyampaikan terima kasih melalui akun Twitter kami. Apresiasi dari warga ini memberikan motivasi. Ya, kerja jerih payah kami dihargai," kata Didi.
Praktik blusukan digital dilakoni Ridwan Kamil semenjak menjabat wali kota Bandung pada 2013. Emil, sapaan Ridwan, memecah kebekuan birokrasi pemerintahan. Dia mewajibkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Bandung memiliki media sosial, terutama Twitter, guna menjalin komunikasi dengan warga. Melalui sarana jejaring sosial, Emil menggeber kinerja anak buahnya berkaitan urusan pelayanan publik. (bbn/try)











































