"Awalnya dipandu main Twitter oleh anak sendiri," kata mantan Kasatpol PP Kota Bandung ini saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Lambat laun, pemilik akun @FerdiLigaswara ini berangsur bisa beradaptasi setelah makin terbiasa mengoprek ponsel pintar miliknya. "Zaman sekarang enggak boleh gaptek," ujar Ferdi terkekeh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ferdi mengaku ada perubahan drastis di kantor dinas yang dinaunginya setelah memanfaatkan mikroblog daring tersebut. "Perbedaannya begitu nyata. Dulu terkesan monoton berinteraksi dengan warga. Sekarang warga kalau mengeluh bisa langsung melaporkannya," tuturnya.
Ia menyatakan kini mudah menginformasikan apa yang telah dilakukan oleh dinas. "Kami memanfaatkan juga Twitter ini untuk sosialisasi program Pemkot Bandung. Serta sosialisasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Sehingga nilai-nilai edukasi tersebut bisa menyebar kepada masyarakat," katanya.
Ia menegaskan media sosial bukan hanya sekedar lips service ataupun narsis. "Ini demi pelayanan publik," tandasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Iskandar Zulkarnaen mengaku tak terlalu kaget dengan perintah wali kota soal penggunaan twitter. "Saya pribadi sudah pakai, cuma kan tidak untuk kerja. Kebanyakan untuk pribadi teman-teman dan grup, sekarang dimaksimalkan," ujarnya.
Ia mengaku interaksi gaya baru ini membuat keluhan dan informasi dari warga cepat masuk, sehingga responsnya juga bisa cepat. "Kadang-kadang juga kan kita ada yang ngadu ke Pak wali, si operatornya juga melihat semua yang berkaitan dengan Kota Bandung," tutupnya. (bbn/try)











































