Cerita Kepala Dinas di Bandung soal Efek Medsos

Revolusi Kota

Cerita Kepala Dinas di Bandung soal Efek Medsos

Baban Gandapurnama, Avitia Nurmatari - detikNews
Senin, 29 Jun 2015 11:17 WIB
Cerita Kepala Dinas di Bandung soal Efek Medsos
(Foto: Ilustrasi/Getty Images)
Bandung - Bagi Ferdi Ligaswara, Kepala Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung, aktif di media sosial khususnya twitter hal yang baru. Saat diperintahkan oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Emil) untuk memiliki akun twitter, ia belajar dari anaknya.

"Awalnya dipandu main Twitter oleh anak sendiri," kata mantan Kasatpol PP Kota Bandung ini saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Lambat laun, pemilik akun @FerdiLigaswara ini berangsur bisa beradaptasi setelah makin terbiasa mengoprek ponsel pintar miliknya. "Zaman sekarang enggak boleh gaptek," ujar Ferdi terkekeh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Praktik blusukan digital dilakoni Emil semenjak menjabat wali kota Bandung pada 2013. Emil memecah kebekuan birokrasi pemerintahan. Dia mewajibkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot Bandung memiliki akun Twitter guna menjalin komunikasi dengan warga. Melalui sarana jejaring sosial, Emil menggeber kinerja anak buahnya berkaitan urusan pelayanan publik.

Ferdi mengaku ada perubahan drastis di kantor dinas yang dinaunginya setelah memanfaatkan mikroblog daring tersebut. "Perbedaannya begitu nyata. Dulu terkesan monoton berinteraksi dengan warga. Sekarang warga kalau mengeluh bisa langsung melaporkannya," tuturnya.

Ia menyatakan kini mudah menginformasikan apa yang telah dilakukan oleh dinas. "Kami memanfaatkan juga Twitter ini untuk sosialisasi program Pemkot Bandung. Serta sosialisasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Sehingga nilai-nilai edukasi tersebut bisa menyebar kepada masyarakat," katanya.

Ia menegaskan media sosial bukan hanya sekedar lips service ataupun narsis. "Ini demi pelayanan publik," tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Iskandar Zulkarnaen mengaku tak terlalu kaget dengan perintah wali kota soal penggunaan twitter. "Saya pribadi sudah pakai, cuma kan tidak untuk kerja. Kebanyakan untuk pribadi teman-teman dan grup, sekarang dimaksimalkan," ujarnya.

Ia mengaku interaksi gaya baru ini membuat keluhan dan informasi dari warga cepat masuk, sehingga responsnya juga bisa cepat. "Kadang-kadang juga kan kita ada yang ngadu ke Pak wali, si operatornya juga melihat semua yang berkaitan dengan Kota Bandung," tutupnya. (bbn/try)


Berita Terkait