Nyaris dua tahun lalu, dalam rapat pimpinan perdananya pasca dilantik menjadi orang nomor satu di Kota Bandung, pria yang akrab disapa Emil itu melontarkan titah yang membuat jajarannya banyak yang kebingungan. Padahal sederhana saja, Emil meminta seluruh dinas-dinas di Bandung bahkan tingkat kecamatan dan kelurahan untuk mengaktifkan media sosial, khususnya akun twitter.
Bagi pria lulusan University of California, Berkeley ini, layanan mikroblog daring tersebut menjadi media interaksi yang paling mudah menjangkau masyarakat. Apalagi Bandung adalah salah satu kota yang masyarakatnya aktif menggunakan twitter. Hal itu yang memicu Emil untuk mendekatkan diri kepada masyarakat melalui media sosial twitter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sampai satu bulan, dinas atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Kota Bandung sudah menjadi anak gaul twitter. Masing-masing memperkenalkan akun twitternya dan mulai aktif berkicau.
Sejak saat itu, layanan media sosial 140 karakter itu memiliki peranan penting dalam roda pemerintahan Kota Bandung. Masyarakat yang dulu tidak tahu harus mengeluh atau melapor ke mana, kini hanya dengan berkicau dan mencolek akun-akun milik Pemkot Bandung, sudah bisa mendapatkan respon.
Secara umum informasi mengenai Pemkot Bandung bisa mengikuti akun @PemkotBandung. Saat ini pengikutnya mencapai 39.000. Sayangnya akun tersebut kurang aktif, kicauan terakhir terpantau bulan Maret 2015 lalu.
Seluruh SKPD di Kota Bandung memiliki akun twitter. Hanya saja sedikit yang benar-benar berinteraksi dengan masyarakat. Biasanya yang aktif sahut-sahutan dengan warga adalah @diskar_bdg (Dinas Pemadam Kebakaran), @Dbmpkotabdg (Dinas Bina Marga dan Pengairan), @DiskominfoBdg (Dinas Komunikasi dan Informasi), @satpolppbdg (Satpol PP)Β @dishub_kotabdg (Dinas Perhubungan), dan @bpptbdg (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu) dan @disdik_bandung (Dinas Pendidikan). (avi/try)










































