"Langkah Pak Yuddy melarang rapat di hotel, itu yang kerja di sini (menunjuk dada simbol hati nurani). Kalau pakai pertimbangan di sini (menunjuk kepala simbol rasionalitas) bisa rugi, dimaki-maki orang hotel. Risiko pemimpin kalau pakai hati nurani itu tidak disenangi, di-'kuyo-kuyo' (Bahasa Jawa -red)'," kata Wiranto.
Wiranto berbicara dalam sambutan buka puasa di rumah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, Jl Widya Chandra IV No 22, Jakarta Selatan, Minggu (28/6/2015). Yuddy nampak memperhatikan sambil bersila di atas karpet sajadah di depan Wiranto, bersama sejumlah orang lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dana proyek kalau dipikir (dengan rasionalitas tanpa hati nurani), siapa sih yang mengawasi? Paling KPK atau Kepolisian mengawasi kalau ada kejadian. Kalau nggak ada kejadian, nggak ada yang mengawasi. Tapi hati nurani kalau proyek jembatan saya potong 40 persen, besinya dikecili, bisa ambruk tidak jadi," kata Wiranto.
Pengawasan oleh hati nurani ini adalah analogi seperti orang yang sedang berpuasa. Tak ada yang tahu orang yang mengaku berpuasa namun sebenarnya bisa saja makan dan minum sambil sembunyi. Namun hati nurani tentulah tak mengizinkannya. (kha/kha)











































