Cerita Warga Kampung Pulo yang Pindah ke 'Apartemen' Jatinegara Barat

Cerita Warga Kampung Pulo yang Pindah ke 'Apartemen' Jatinegara Barat

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jumat, 26 Jun 2015 17:09 WIB
Cerita Warga Kampung Pulo yang Pindah ke Apartemen Jatinegara Barat
Jakarta - Pemprov DKI memfasilitasi pembangunan rusun Jatinegara Barat yang digarap Kementerian PU dengan dana APBN. 80 Persen Warga Kampung Pulo, Jakarta Timur, memilih menempati rusun ini.

"Sejauh ini sudah 111 warga sekitar bantaran Kali Ciliwung yang menerima kunci, sedangkan yang sudah menempati hunian 43 kk," ujar Camat Jatinegara, Sofyan Taher saat berbincang dengan detikcom, Senin (15/6) lalu.

Sofyan menuturkan hingga kini sudah hampir 90 persen warga yang ambil undian hunian rusun. Setidaknya dari 502 jumlah unit di rusun 406 di antaranya telah diambil warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga yang sudah memutuskan untuk 'hijrah' ke rusun adalah Erna (36). Ibu dua anak ini memilih meninggalkan rumahnya di Kampung Pulo dan pindah ke rusun demi kehidupan yang lebih baik.

"Kalau dipikir mending hijrah, ibaratnya dulu kita hidup di daerah kumuh sekarang udah nggak," ujar Erna.

Warga RT09 RW02, Kampung Pulo, ini mengaku sudah bosan hidup di wilayah langganan banjir. Dia tak mau terus menerus menjadi beban kota dengan menjadi korban banjir.

"Kalau kita mikirnya nerima sumbangan melulu kapan kita nyumbang. Lagian sekali-kali ngerasain tinggal kayak orang kaya apa-apa delivery walaupun nasi bungkus dari bawah," ujarnya sambil tertawa.

Namun demikian, ada hal yang dikhawatirkan Erna dari rusun tersebut, yaitu tingkat keamanan. Dia juga khawatir perawatan rusun ini bisa dijalankan dengan konsisten dan baik.

Sementara Sanah (50), warga yang telah terdaftar di lantai 16 rusun Jatinegara Barat, sebenarnya merasa berat untuk meninggalkan rumahnya di Kampung Pulo. Baginya rusun tersebut hanya layak untuk pasangan muda yang baru menikah. Sementara kalau untuk orang lanjut usia, rusun tersebut terlampau elite.

"Kalau dipikir-pikir itu rusun kalau mati lampu gimana ya? Apa iya harus naik tangga ke lantai 16?" ujar Sanah.

Sedangkan Rina, warga Gang Anwar Rt 12/01, mengatakan pindah ke rusun lantaran takut jika sewaktu-waktu rumahnya digusur. Dia sendiri menempati kamar di lantai 3. "Kalau dibanding dengan rumah tentu kita lebih nyaman tinggal di rumah, tapi kalau kita bertahan takutnya digusur malah nggak dapat tempat tinggal," papar Rina.

Meski begitu ia tak perlu lagi khawatir kebanjiran. Pasalnya tempat tinggalnya yang baru sudah jauh lebih tinggi dari permukaan kali Ciliwung.

"Sekarang kita harus belajar adaptasi lagi mulai sosialisasi di lingkungan baru. Karena proses mendapat hunian diacak, bisa saja beda RT atau RW," paparnya. (tor/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads