"Jadi, Srikandi ini dibentuk oleh Bu Chandra Oratmangun (Kepala Dinas PMK Surabaya) pada Mei 2012 atau saat ulang tahun Surabaya," kata Anis Mulyati, salah satu komandan regu Srikandi Baruna kepada detikcom, Kamis (25/6/2015).
Awalnya, kata Anis, anggota Srikandi Baruna hanyalah lima perempuan, termasuk Anis. Sekarang ini jumlahnya 13 personel. Sebenarnya jumlah ideal personelnya adalah 16, tetapi tiga mengundurkan diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya keberatan. Namun setelah dijalani sebulan, ternyata kelebihan yang ada pada diri saya muncul. Ternyata asyik juga, ternyata saya bisa melakukan yang saya pikir tidak bisa," lanjut perempuan 33 tahun itu.
Anis kini sudah 3 tahun menjadi Srikandi Baruna. Jika dihitung dengan saat ia menjadi staf, berarti Anis sudah 11 tahun mengabdi di Dinas PMK Surabaya. Tugas Anis sama dengan yang lain. Anis juga memegang nozzle saat memadamkan kebakaran.
"Tetapi kami juga mempunyai tugas lain," ujar Anis yang pernah bekerja menjadi Sales Promotion Girl (SPG) ini.
Β
Anis menjelaskan, tugas lain Srikandi di antaranya membuka jalan bagi petugas PMK, menyediakan logistik, menenangkan korban dan keluarganya yang shock, mencari data, dan merawat jika ada petugas PMK yang terluka.
"Kami juga sering menjadi pengganti jika ada petugas PMK lain yang kelelahan," lanjut perempuan warga Kedung Cowek ini.
Anis mengaku awalnya juga tidak direstui keluarga dan suaminya. Sang suami, kata Anis, mengaku khawatir dirinya celaka saat melakukan tugas di lapangan. Tetapi lambat laun kekhawatiran itu hilang. Bahkan sang suami selalu mendukung tindakan istrinya. "Jika ada kebakaran malam, justru suami yang menyuruh saya untuk datang ke lokasi," pungkas ibu satu anak ini.
Dok Dinas Kebakaran Kota Surabaya |
"Saat saya mendaftar, saya pikir saya akan bekerja sebagai staf," ujar Iswati yang sebelumnya bekerja sebagai staf akuntan tersebut.
Ternyata Iswati langsung diterjunkan ke lapangan. Sebelumnya, ia dibekali diri dengan kemampuan dalam diklat yang harus dijalaninya.
"Ternyata seru juga terjun ke lapangan. Saya menikmatinya," ungkap perempuan warga Kalijudan ini.
Sama seperti Anis, suami Iswati awalnya juga tidak setuju dan khawatir dengan keputusan istrinya. Namun sang suami akhirnya luluh juga dengan keputusan Iswati setelah berulang kali diyakinkan.
"Kini suami saya justru mendukung," kata ibu tiga anak ini.
Baik Anis dan Iswati awalnya diremehkan oleh petugas PMK pria. Namun lambat laun, dengan kinerja yang mumpuni, kemampuan mereka pun akhirnya diakui. Dan satu hal yang tak pernah lepas dari mereka meski sudah berkumpul di rumah dengan keluarga adalah Handy Talkie (HT). Perangkat komunikasi itu harus selalu ada.
"Kami ngeloni HT seperti suami kedua," canda Iswati.
(iwd/try)












































Dok Dinas Kebakaran Kota Surabaya