Dikisahkan E, ketika itu dirinya janjian dengan seorang rekannya di Apartemen Kalibata City, Rabu (24/6) pagi. Saat sedang menunggu rekannya di depan lift untuk naik lantai atas, ada seorang pria berperawakan Timur Tengah yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Awalnya saya nggak menaruh curiga sama orang ini. Jadi sambil nunggu temen saya turun, saya iseng lihat-lihat HP baca BBM masuk," kata E saat dihubungi detikcom via telepon, Jumat (26/6/2015).
Sesaat kemudian, tiba-tiba E merasa ada yang menyentuh bagian belakang tubuhnya sebelah kiri. Ia pun refleks menengok ke belakang. Namun dia melihat pria itu seperti sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tas selempang. "Dia pura-pura nggak lihat saya," ucapnya.
Namun E tak mau menuduh tanpa bukti. Ia mencoba berpikir positif dengan mengira tubuhnya tersentuh sesuatu karena saat itu dia memakai ransel dan di belakangnya ada tanaman hias meski jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri.
E pun mencoba maju 2 langkah ke depan agar kejadian itu tak terulang. Namun meski sudah maju, ia kembali merasakan tubuhnya tersentuh lagi.
"Refleks saya balik badan dan yakin dia itu nyolek pantat saya, karena nggak ada siapa-siapa lagi di situ selain dia. Saya tanya ke dia, Anda ngapain colek pantat saya! Dia malah senyum-senyum menjijikkan. Makin marah saya. Saya tanya lagi, Anda ngapain colek-colek pantat saya! Dia masih ketawa-ketawa gitu," ucap E
WN Irak yang belakangan diketahui bernama Hussein Hashim Hussein Zalzala ini kemudian membantah dalam bahasa Inggris bercampur bahasa Arab. Ia mengaku sedang memeriksa tas. "Udah, saya bilang ke dia, intinya bahwa di situ ada CCTV dan saya akan laporkan dia ke security," imbuhnya.
E pun berlari menuju pihak keamanan gedung yang ada di lobi. Dia kemudian menceritakan bahwa Hussein telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Keributan pun terjadi dan peristiwa itu menjadi tontonan orang-orang di lokasi. Hussein terus membantah dia melakukan pelecehan seksual.
"Saya lalu bilang ke petugas untuk melacak orang ini akan menemui siapa dan saya minta orang yang akan ditemui untuk turun ke bawah. Ternyata pelaku ini juga tidak jelas akan menemui siapa, ketika ditanya petugas pun berbelit-belit, dan mencoba menelepon untuk menghubungi seseorang. Berkali-kali pelaku mencoba mengatakan pada saya bahwa itu salah paham saja, saya tidak gubris sedikit pun.
"Dia terus bilang, Masya Allah, madam, please forgive me. This Ramadan," kata E menirukan ucapan Hussein kala itu. Namun dia tak peduli karena kadung emosi dilecehkan.
"Kemudian petugas memberikan telepon ke saya karena ada seseorang yang mau bicara dengan saya. Dalam percakapan tersebut, ada seorang yang bernama Ira dan mengaku temannya pelaku yang menyewa unit tempat dia tinggal, tetapi ujung-ujungnya dia meminta saya untuk memaafkan pelaku dan enggak perlu diperpanjang lagi, karena dia sendiri tidak mau berurusan dengan banyak pihak," sambung E.
E pun menolak mentah-mentah saran sosok perempuan bernama Ira itu. Ia bersikeras melaporkan peristiwa itu ke pos keamanan yang berada di basement gedung agar pengelola tahu dan kejadian serupa tak terulang dengan meningkatkan keamanan.
Saat E tengah berjalan ke pos keamanan ditemani rekannya dan seorang petugas keamanan perempuan, Hussein mencoba kabur berlari. Lokasi itu memang areal terbuka dan parkiran.
"Pelaku saya teriakin maling biar bikin heboh. Kita semua lari ngejar dia sambil teriak-teriak maling," ujar E. Orang-orang dan petugas keamanan pun mengejar pelaku.
"Saya tadinya mikir, pelaku sudah lolos. Ehh tidak lama kemudian dari kejauhan, serombongan petugas keamanan berhasil menangkap pelaku dan digiring ke pos keamanan," kata E.
dokumentasi E |
Sesampainya di pos keamanan, pelaku bernama lengkap Hussein Hashim Hussein Zalzala ini langsung ditanyai koordinator keamanan. E pun diminta menerangkan kembali kronologinya.
Dari situ, petugas kemudian makin curiga terhadap Hussein. Soalnya, dua hari sebelumnya ada laporan serupa mengenai pelecehan seksual, namun di tower yang berbeda di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. CCTV kemudian diperiksa pada peristiwa Senin (22/6). Karena wajah dalam rekaman CCTV samar-samar, petugas kemudian menghubungi korban pertama dan menyuruh datang ke lokasi.
Tak lama kemudian korban pertama bersama keluarganya datang. Korban seorang mahasiswi (19) berjilbab lalu diminta melihat Hussein apakah dia orang yang sama yang melakukan pelecehan seksual kepadanya. Korban pun langsung menangis dan membenarkan.
"Ibu korban langsung menghampiri pelaku dan menampar. Makin marah saya lihat pelaku ini karena ternyata korbannya bukan saya saja," imbuh E. Korban pertama dan E kemudian sepakat melaporkan pelaku ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan karena pelaku merupakan pengungsi di bawah naungan UNHCR sebagai pencari suaka. Petugas keamanan Mal Kalibata City ikut mendampingi.
Menurut E, petugas di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, kemudian menyarakankan mereka melapor ke Polda Metro Jaya. Hal itu dikarenakan kasus tidak terkait masalah keimigrasian, namun pelecehan seksual. Semua pun bergegas menuju lokasi yang dimaksud.
Di Polda Metro Jaya, korban pertama dan E kemudian diterima di unit PPA, lalau ke unit Renata. Mereka diperiksa dan dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP). "Karena korban pertama kasusnya lebih berat, dia dijadikan pelapor utama sementara saya jadi saksi korban," katanya.
"Korban pertama ini memang saat kejadian katanya dan dari rekaman CCTV terlihat coba dipeluk oleh pelaku. Bahkan dia hampir dicium dan nggak kena bibirnya, cuma kena dagunya saja. Pelaku dia dorong dan kabur melapor ke orangtuanya. Orangtuanya dan dia kemudian melapor ke pihak keamanan gedung," sambung E.
E menerangkan, pelaku kemudian ditahan oleh pihak Polda Metro Jaya dan dikenakan pasal 289 KUHP tentang Pelecehan Seksual. Polisi juga meminta bukti rekaman CCTV di Apartemen Kalibata City sebagai alat bukti.
E berharap pelaku tak sekadar dideportasi ke negara asalnya. Sosok yang juga aktivis perempuan ini meminta polisi berani menindak pelaku dengan pidana penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sebelum kemudian dideportasi.
Ditambahkan E, sebelum meninggalkan Polda Metro Jaya, usai membatalkan puasa, pelaku menghampirinya dan meminta maaf sambil bersujud. "Madam, this Ramadan, Allah give you Rahmatan lil alamin. Please forgive me," ucapnya menirukan pelaku.
"Saya memaafkan, tapi tidak pernah akan mencabut laporan ini karena siapa tahu mungkin masih banyak korban yang lain tetapi tidak berani melaporkan," sambungnya.
Kisah ini sendiri telah dituliskan dia melalui laman blog pribadinya. E mengajak agar para korban pelecehan jangan pernah diam. "#Buat korban-korban yang berani berteriak …. JANGAN DIAM…." tulisnya.
Halaman 2 dari 4












































dokumentasi E