Arungi Samudera Hindia 21 Hari, Kapal Norwegia Akan Teliti Sampah dan Ikan

Arungi Samudera Hindia 21 Hari, Kapal Norwegia Akan Teliti Sampah dan Ikan

Nur Khafifah - detikNews
Kamis, 25 Jun 2015 22:39 WIB
Arungi Samudera Hindia 21 Hari, Kapal Norwegia Akan Teliti Sampah dan Ikan
Kapal Dr Fridtjof Nansen (Nur Khafifah/detikcom)
Jakarta - Kapal penelitian dari Norwegia, Dr Fridtjof Nansen tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kapal ini akan mengarungi Samudera Hindia selama 21 hari dalam rangka survei sebelum pelaksanaan 2nd International Indian Ocean Expedition (IIOE-2) yang diselenggarakan oleh Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

IIOE-2 tahap pertama ini akan dimulai dari Indonesia yaitu dari Pelabuhan Tanjung Priok dan berakhir di Port Louis, Mauritius. Kapal akan bergerak esok hari pada 26 Juni dan berakhir pada 16 Juli 2015.

Ada 16 orang peneliti yang terdiri dari 11 negara yang mengikuti riset ini, yaitu Indonesia, Norwegia, Madagaskar, Spanyol, Belanda, Kenya, Afrika Selatan, Perancis, India, Tanzania dan Seychelles.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program Nansen adalah sebuah contoh bagaimana riset gabungan bisa memberikan pengetahuan yang dibagikan bersama dan bermanfaat bagi semua orang," kata Kedubes Norwegia untuk Jakarta, Hilde Solbakken di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (25/6/2015).

IIOE-2 ini sekaligus akan menyongsong peringatan 50 tahun IIOE-1 yang diselenggarakan pada tahun 1965 di mana Indonesia juga terlibat di dalamnya. Kala itu Indonesia menyertakan kapal penelitian Jalanidhi. Peringatan 50 tahun IIOE ini akan diluncurkan pada Desember 2015 mendatang.

Tim survei yang tergabung dalam IIOE-2 ini akan meneliti bagaimana Indian Ocean Gyre atau sistem besar perputaran arus samudera mempengaruhi ekosistem dan perikanan. Fenomena kelautan yang terjadi seperti El Nino yang merupakan indikator kekeringan juga akan diteliti. Begitu juga dengan Indian Ocean Dipole (IOD) yang memiliki dampak signifikan terhadap perubahan cuaca dan iklim di Indonesia.

Menko Kemaritiman Indroyono Susilo mengatakan, Indonesia sangat mendukung penelitian ini. Mengingat Indonesia terletak diantara 2 benua dan 2 samudera yaitu Hindia dan Pasifik. Sehingga hasil penelitian ini sangat penting bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia nantinya.

"Indonesia terlibat aktif dalam penelitian dan perhatian mengenai Samudera Pasifik. Tapi untuk Samudera Hindia kita masih belum. Oleh karena itu inilah saatnya," ujar Indroyono.

Dalam penelitian kali ini, Indonesia melibatkan 3 orang peneliti yaitu dari BPPT dan Kemenko Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta BPPT. Indonesia juga melibatkan 3 kapal penelitian yaitu Kapal Latih Madidihang 3 milik Sekolah Tinggi Perikanan (STP) dan kapal riset Baruna Jaya milik BPPT. (kff/hri)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads