Warna-warni 'Kampoeng Ramadan Jogokariyan', Putaran Uangnya Miliaran

Ramadan 2015

Warna-warni 'Kampoeng Ramadan Jogokariyan', Putaran Uangnya Miliaran

Sukma Indah Permana - detikNews
Kamis, 25 Jun 2015 17:37 WIB
Warna-warni Kampoeng Ramadan Jogokariyan, Putaran Uangnya Miliaran
(Foto: Sukma Indah P/detikcom)
Yogyakarta - Tak hanya masjidnya, kampung Jogokariyan terkenal meriahnya saat Ramadan tiba. Di sepanjang jalannya, berubah menjadi pasar sore. Lalu apa yang beda tahun ini?

Saat detikcom berkunjung ke pasar sore di sepanjang Jalan Jogokariyan, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta, Selasa (23/6/2015), kegiatan para pedagang sudah mulai bergeliat usai salat Ashar.

Sekretaris Panitia Kampoeng Ramadan Jogokariyan, Enggar Haryo Panggalih menjelaskan bahwa pasar sore kali ini menjadi yang ke-11 kalinya. Terdapat sekitar 300 pedagang yang ikut meramaikan pasar sore tahun ini. Begitu ramainya hingga diperkirakan ada milaran uang yang berputar di pasar sore tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam 1 bulan bisa mencapai Rp 1 miliar. Karena perolehan infaq harian kami dari pedagang pasar sore hampir Rp 1 juta," jelas Galih.

"Jika infaq itu 2,5 persen dari penghasilan mereka, maka rata-rata per hari ada perputaran uang Rp 50 juta di pasar sore," imbuhnya.

Beragam jajanan pasar hingga makanan modern dijajakan di kanan kiri jalan. Semakin sore arus kendaraan mulai melambat, beberapa pengendara membeli takjil tanpa turun dari kendaraannya.

Ada yang berbeda dengan tampilan pasar sore di kampung yang terletak di selatan Kota Yogyakarta ini. Di atas sepanjang jalan sejauh sekitar 50 meter terpasang hamparan kertas warna-warni. Meriah.

Tak hanya itu, di setiap ujung hamparan kertas itu terdapat payung yang juga warna-warni. Lantunan lagu-lagu Islami juga ikut menyemarakkan suasana sore di Kampung Jogokariyan.

"Warna-warni itu katanya romantis, Ramadan makin istimewa," kata Galih sambil tersenyum lebar.

Tak hanya pasar sore, masjid Jogokariyan memiliki sejumlah kegiatan khas Ramadan yang menarik. Mulai dari dongeng anak, buka bersama dengan menyediakan 1.000-1.200 takjil, sampai Tarawih Ala Madinah. Seluruh rangkaian kegiatan ini diberi tema Syiar Dakwah Nusantara.

"Karena Nusantara itu maknanya bahkan lebih luas dari Indonesia," kata Galih. (sip/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads