"Rute yang berhimpitan dengan TransJakarta, misalnya Ragunan-Senen. Itu hampir 100 persen bersentuhan dengan rute kita," kata Dirut PT Transportasi Jakarta ANS Kosasih di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2015).
Akan tetapi, trayek tersebut bukanlah bersifat mutlak. Kosasih menyebut bisa disesuaikan dengan kekosongan bus di rute TransJ lainnya, sehingga jarak kedatangan bus (headway) tidak berselang terlalu jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tinggal kita ganti aja tulisan di LED-nya," imbuh dia.
Memang bus Kopaja TransJ tidak berbeda jauh dengan bus Kopaja AC yang sudah ada selama ini. Yang membedakan adalah warna badan bus yang mulanya hijau abu-abu menjadi biru diikuti dengan logo TransJakarta baru dan adanya LED di bodi bus untuk memberitahu koridor bus serta tujuannya.
Dengan ukuran bus sedang itu diharapkan bisa menjadi solusi bagi pelayanan TransJ agar penumpang tidak menunggu terlalu lama di halte. Sebab menurut Kosasih jika hanya mengandalkan bus gandeng (articulated bus), mobilitasnya tidak dinamis.
"Memutar bus gandeng itu tidak mudah dan tidak cepat. Kalau bus seperti ini kan bisa cepat. Kita bisa lewatin rute mana saja yang dibutuhkan," pungkasnya.
Sekadar diketahui, Kopaja yang sudah terintegrasi akan mengikuti aturan standar operasional bus TransJ. Sistem pembayarannya pun didasari pada Rupiah per kilometer (Rp/Km). Untuk harga tiketnya pun mengikuti bus TransJ, yakni Rp 3.500.
Saat ini Kopaja sudah memiliki 120 unit bus berstandar TransJ seperti ber-AC dan memiliki pintu tengah yang nanti akan dilengkapi sensor agar tidak bisa membuka sebelum sampai di halte. Ada juga sekitar 200 unit bus Kopaja lain yang tengah dikaroseri saat ini. Rencananya, bus-bus tersebut bisa dioperasikan 2-3 bulan ke depan. (aws/fiq)










































