Mark baru berusia 10 tahun, dia merupakan blasteran Indonesia-Australia dan besar dalam pendidikan dua agama yang berbeda. Dari sang ibu Mark mendapat pelajaran agama Islam dan dari sang ayah dia mendapatkan pelajaran agama lain.
Saat usianya menginjak 6 tahun, Mark mulai menunjukkan ketertarikannya kepada Islam. Dia mulai belajar mengaji dan saat ini sudah bisa membaca Iqra' dan salat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mark salatnya 5 waktu, tidak pernah bolong. Kalau misalnya kami mau pergi, pasti dia tanya nanti 'Ada tempat salat nggak Mami di sana?', kalau nggak ada dia lebih pilih nggak ikut acara. Bahkan saya justru yang sering diingatkan Mark untuk salat," cerita Hani di acara "Ngobrol Bareng Bule" di Masjid Al-Jaufar Yasfi, Jl Raya Kampung Sawah, Bekasi, Minggu (21/6/2015) lalu.
Pernah suatu hari, Mark dan keluarga pergi ke luar kota menggunakan kendaraan pribadi. Ketika masuk waktu salat maka Mark akan meminta mobilnya untuk masuk ke rest area agar dia bisa melaksanakan salat.
"Kalau misalnya pas istirahat di rest area sudah mau masuk salat, maka dia minta nunggu sampai azan dulu terus salat baru lanjutin perjalanan," kisah Hani.
Selain salat, Mark juga sudah bisa membaca Iqra'. Dia juga bisa melafalkan surat Al-Fatihah dengan lancar meski dengan aksen bulenya. Mark ingin seperti kakeknya yang rajin salat dan mengaji, kakek Mark memiliki musala sendiri di rumahnya dan banyak anak-anak kecil mengaji di sana.
"Saya ingin seperti kakek saya. Dia seorang muslim yang baik," ujar Mark.
Halaman 2 dari 1











































