Dilansir sejumlah media barat, disebutkan bahwa WNI itu menyebarkan aids dengan cara mendonorkan darahnya ke kantong-kantong darah yang digunakan untuk kepentingan ISIS. Selain itu, si pelaku juga disebut berhubungan badan dengan budak seks, yang juga digunakan oleh anggota ISIS lainnya.
Kasus ini berawal ketika seorang anggota ISIS asal Mesir (30) yang telah menerima donor darah dari WNI tersebut, dipastikan terdiagnosa HIV/AIDS. Begitu pula dengan gadis Yazidi berumur 15 tahun yang menjadi budak seks militan ISIS itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapa sosok WNI yang 'merusak ISIS dari dalam' ini masih menjadi misteri. Karena dia berada di lokasi konflik, sulit bagi pemerintah untuk melacak identitas sosok tersebut.
“Kita sulit mengkonfirmasi soal ini, apalagi identitas aslinya tidak dibuka. KBRI Ankara dan KBRI Damaskus juga tidak bisa mengkonfirmasi,” terang Dirjen Perlindungan WNI Lalu M Iqbal, Kamis (25/6/2015).
Tak hanya di Kemlu, KBRI Suriah juga kesulitan melacak identitas WNI tersebut. “Kami juga sudah ditanya Jakarta soal ini,” jelas Dubes RI di Suriah Djoko Harjanto saat dihubungi detikcom, Rabu (24/6/2015).
Lokasi pemenggalan di wilayah ISIS sulit untuk dimasuki, sekalipun oleh warga Suriah. Akses informasi hanya melalui pemberitaan. “Kalau daerah konflik sulit untuk dimasuki, kalau kami masuk artinya kami membuka perundingan dengan mereka kelompok ISIS,” tutur Djoko.
(faj/faj)











































