Bersyukur karena saya mendapat kepercayaan dari kantor saya untuk joint dalam sebuah program "Global Mobility", di mana hanya beberapa talent atau best employee di masing-masing subsidiaries kami yang dikirimkan untuk bisa ikut dalam program ini. Ya, sebuah kebanggaan tentunya bisa mewakili subsidiaries saya (PT Samsung Electronics Indonesia) untuk bergabung dengan beberapa talent dari negara lainnya dan bekerja di kantor pusat Samsung Electronic Ltd di Korea.
Tanpa saya sadari bulan Juni pun tiba dan Ramadan-pun datang tanpa terasa, tanpa hingar bingar seperti yang terjadi di budaya masyarakat Indonesia. Di negeri yang berkembang pesat selama beberapa tahun ini memang mayoritas masyarakat tidak beragama, mereka tidak mengenal adanya Tuhan dan segala ritual keagamaan seperti masyarakat umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hari pertama puasa di sini terasa amat berat sekali, selain mayoritas karyawan di sini tidak berpuasa, perbedaan waktu berpuasa di sini lumayan jauh berbeda dengan di Indonesia. Tercatat waktu Subuh di sini adalah pukul 03.15, sedangkan Magrib sekitar pukul 20.00. Praktis bagi muslim yang sedang berpuasa di sini harus menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa tersebut hampir 17 jam. Sebagai info, saat ini di Korea sedang musim panas dan cuaca tidak begitu jauh panasnya dengan Jakarta.
Ada cerita yang sedikit menggelitik saya di hari pertama puasa, ketika supervisor saya tahu bahwa saya sedang berpuasa. Biasanya kita selalu makan siang ataupun makan malam bersama-sama di kafetaria yang memang sudah disediakan bagi karyawan di perusahaan kami. Dia bertanya, "Kenapa kamu tidak boleh makan?", "Berapa lama kamu tidak boleh makan?".
Setelah saya jelaskan ini berkaitan dengan ibadah agama akhirnya dia mengerti dan menaruh empati. Dan dia bilang akan mentraktir saya minum usai saya berbuka. Dalam hati saya sudah tahu minuman yang dimaksud. Yah, Thatβs right, Soju and anothers liquid. Sudah menjadi budaya di sini kalau setiap minggu bos mengajak anak buahnya baik untuk sekadar dinner di luar atau bahkan minum. "Oke Chajang-Nim next time is better I think," kelakar saya.
Untuk masalah makan baik untuk berbuka dan dan sahur saya harus benar benar memilih. Sebagian besar makanan di sini menggunakan pork sebagai lauknya. Beef atau daging sangatlah mahal. Alternatifnya adalah makanan dengan lauk ayam atau telor. Kebetulan karena saya orang yang tidak susah dalam urusan makan, terkadang saya sahur cukup dengan salad plus chicken grill dan tetap makan nasi pada saat berbuka puasa.
Hal yang sangat saya rindukan di sini adalah saya tidak bisa berbuka bersama seperti yang lazim dilakukan oleh teman-teman saya di Jakarta. Rindu untuk menunggu bedug berbunyi, mendengarkan suara azan dan berbuka bersama.
Satu hal yang yang membuat saya sedih bahwa Lebaran tahun ini untuk pertama kalinya saya tidak bisa berkumpul bersama keluarga saya, di Indonesia. I know this very hard but thatβs the consequenceβ¦.
*) Angga Johanta adalah Assistent Manager Asia Product Marketing Group (South East Asia) Visual Display Sales & Marketing Team Samsung Electronics CO, LTD yang sedang mengikuti program di kantor pusat Samsung Electronic Ltd di Korea Selatan.
Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda.
Halaman 2 dari 1











































