Jeritan Hati Ibu Kandung Engeline dan Janji Manis Margriet

Jeritan Hati Ibu Kandung Engeline dan Janji Manis Margriet

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Kamis, 25 Jun 2015 08:42 WIB
Jeritan Hati Ibu Kandung Engeline dan Janji Manis Margriet
Jakarta - Mata Hamidah tidak lepas memandangi foto Engeline (8) di handphonenya saat dirundung rindu. Ingatannya kembali ke masa silam saat dirinya menyerahkan bayi mungilnya ke tangan Margriet Megawe.

Hamidah tidak habis pikir Engeline dihabisi dengan sadis di kediaman mama angkatnya, Margriet. Ia menyesal Margriet mengingkari janjinya untuk menjaga buah hatinya sebaik mungkin bagaikan anak kandung.

Kini, Hamindah berusaha menerima kenyataan pahit buah hatinya telah pergi selamanya. Ia berharap pembunuh Engeline dihukum setimpal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Berikut 4 kisah ini:

1. Hukum Berat Pembunuh Engeline

Ibu kandung Engeline, Hamidah, berharap pembunuh anaknya itu benar-benar ditemukan dan diberikan hukuman yang berat.

"Saya berharap pembunuhnya bisa segera ditemukan dan dihukum seberat mungkin. Dia sudah menghilangkan nyawa anak saya," kata Hamidah saat berbincang dengan detikcom di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakpus, Selasa (23/6/2015) malam.

Hamidah yang mengenakan baju kaos yang ditutup dengan jaket kulit berwarna hitam itu lebih banyak diam. Beberapa kali ia menatap kosong ke sudut-sudut kamar yang ditempatinya.

Dengan suara lirih ia menyampaikan permintaannya pada pihak kepolisian untuk menuntaskan kasus pembunuhan anaknya. Menurutnya, harus ada orang yang bertanggung jawab atas segala kekejian yang dirasakan anaknya. "Sampai sekarang saya masih terus berusaha menerima kenyataan jika anak saya sudah meninggal. Tapi saya juga meminta polisi menyelesaikan kasus ini," ucapnya.

Harapan yang sama disampaikan pula oleh ayah kandung Engeline, Rosidi, yang duduk di samping Hamidah. Ia yakin tak cuma pembantu rumah, Agustinus Tay, yang harus ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. "Kalau ada dalangnya, harus mendapat hukuman yang setimpal," kata Rosidi yang mengenakan jaket jins berwarna gelap.

2. Ma...Tolongin Engeline

Banyak cara seorang ibu dan anak berkomunikasi meski terpisah bertahun-tahun. Meski tak sempat merawat anak kandungnya, Hamidah, ibu kandung Engeline memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya.

"Dulu saat dia masih hidup, dia sering datang ke mimpi saya gendong boneka dan minta tolong 'ma... tolongin Engeline," kata Hamidah saat berbincang dengan detikcom di hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2015) malam.

Engeline tak satu dua kali datang ke mimpi ibundanya. Sekali, dalam mimpi Hamindah Engeline menangis dan meminta digendong. Mimpi-mimpi itu menjadi bunga tidur Hamidah sejak Engeline diadopsi. Firasat itu membuat rindunya membuncah. Terlebih ia hanya melihat Engeline di usia baru 5 hari karena saat itu langsung diadopsi Margriet.

"Sekarang saya baru sadar kalau ini pesan anak saya," katanya dengan suara lirih.

Meski mimpi-mimpi itu terus mendatangi, ia tak bisa datang menjenguk anaknya yang diadopsi Margriet Megawe. Alasannya, ada aturan dalam surat adopsi anak jika ia baru bisa menemui Engeline setelah usinya 18 tahun.

"Dalam surat adopsi yang saya tanda tangani ada aturan kami baru bisa menemui Engeline setelah usianya 18 tahun dan tidak boleh memberi tahu bahwa kami ibu kandungnya," sambungnya.

3. Foto Pelipur Lara

Sesal tak berujung kini dirasakan Hamidah karena menyerahkan putrinya Engeline ke tangan Margriet dan akhirnya merenggang nyawa. Kini, ia hanya bisa mengingat Engeline dari foto-foto yang beredar.

Ternyata bukan tanpa sebab ia menatap layar HP-nya. Di layar itu, wajah Engeline yang sedang tersenyum sengaja diaturnya menjadi latarbelakang HP. "Kalau rindu sekarang hanya bisa lihat foto-foto ini saja," kata Hamidah saat berbincang dengan detikcom di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakpus.

Foto Engeline memang banyak beredar seiring dengan merebaknya berita hilangnya bocah 8 tahun itu. Di HP-nya ada beberapa foto Engeline yang diunggahnya saat bocah berusia 8 tahun itu menggunakan kemeja bergaris dengan tatapan nanar ke arah kamera.

Hamidah kini mencoba untuk tegar dan kuat menerima kenyataan harus kehilangan putri tersayangnya.

4. Janji Manis Margriet

Hamidah tak habis pikir apa motif anaknya, Engeline, dibunuh. Ia lalu teringat janji Margriet saat mengadopsi Engeline.

"Kenapa sampai membunuh? Kalau tidak kuat merawat, kenapa tidak dikembalikan saja?" ujarnya dengan suara bergetar.

Hamidah menjelaskan ia sama sekali tidak memiliki firasat buruk saat akan menyerahkan Engeline pada Margriet 8 tahun lalu. Saat itu, ia melihat Margriet sebagai sosok ibu yang baik. Ia pun berjanji akan merawat Engeline seperti anak kandungnya sendiri.

Firasat Hamidah berubah saat ia didatangi anggota kepolisian dan memberitahu anaknya hilang. Ia lalu mencari tahu dari tetangga-tetangga Margriet dan mendapati cerita anaknya diperlakukan dengan tidak manusiawi.

Nasi sudah jadi bubur, kini ia harus belajar mengikhlaskan Engeline dan fokus pada penanganan kasus pembunuhan ini. Pihak pengacaranya mengindikasi adanya pebunuhan terencana menyusul kesaksian salah satu penghuni kos yang melihat Agus membuang pasir dalam jumlah banyak 2-3 minggu sebelum bocah cantik itu dinyatakan hilang.

Halaman 2 dari 5
(aan/mad)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads