"UU-nya itu sebetulnya ada, tapi mungkin penerapannya yang mesti ditegaskan penjelasannya. Kami kasihan sama sopir-sopir kami kalau nabrak di jalur busway disalahkan, sementara kalau kejadian yang sama, ada banyak mobil berderet di jalur kereta api waktu kereta lewat ditabrak semua, nggak bakal ada yang nanya tuh 'Kok ditabrak? Ya ada di jalur itu'," kata ANS Kosasih di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2015).
Kosasih menilai Bus Rapid Transit (BRT) sangat dibutuhkan di Jakarta, di mana negara-negara maju juga memfasilitasi masyarakat dengan angkutan tersebut.Β Menurutnya, pemerintah mesti memberikan masyarakat pilihan bertransportasi mulai di atas rel, kendaraan pribadi, termasuk kendaraan umum dengan biaya rendah tapi kualitasnya baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak Kopaja, imbuhnya, sanggup mengadakan sekitar 200 bus dengan standar seperti bus TransJ.
"Pak Gubernur berdiri nggak mentok, jadi cukup tinggi, AC nyala, pintu dengan standar safety. Pintu tertutup ada yang ganjal akan terbuka. Ada berapa bus seperti ini? Mereka siap 200.Β Udah ada di karoseri," imbuhnya.
Lebih jauh, Kosasih mengatakan bahwa sebagian besar kecelakaan yang melibatkan TransJ terjadi karena kendaraan pribadi masuk jalur TransJakarta, terutama pemotor.
"Sebagian besar kecelakaan yang dialami TransJakarta 80-90 persen terjadi di jalur busway karena ada kendaraan pribadi masuk busway. Kita agak kesulitan. Sebagian besar dari kendaraan pribadi itu roda dua," ucapnya. (bal/nwk)











































