Kisah Baiq Saat Pertukaran Pelajar di AS: Diskusi Islam dan Pangan Halal

Ramadan 2015

Kisah Baiq Saat Pertukaran Pelajar di AS: Diskusi Islam dan Pangan Halal

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Rabu, 24 Jun 2015 15:40 WIB
Kisah Baiq Saat Pertukaran Pelajar di AS: Diskusi Islam dan Pangan Halal
(Foto: dokumen pribadi)
Jakarta - Baiq Nabila Mufti Utami (17), siswi SMAN 1 Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat tak cuma ditanya-tanya tentang jilbabnya saat di sekolah. Baiq juga harus menjelaskan tentang Islam, juga bagaimana mencari makanan halal.

"Ternyata pas saya tahu, orangtua saya tuh udah senior semua. Ibu angkat saya 65 tahun dan ayah angkat saya 75 tahun. Jadi ngerasanya bukan house dad, house mom. Tapi house grandma dan house grandpa. Tapi mereka baik dan berpendidikan," kisah Baiq kepada detikcom, usai buka puasa bersama di rumah dinas Duta Besar Amerika Serikat untuk Republik Indonesia Robert Blake, Jalan Taman Surapati, Jakarta Pusat, pada Jumat (19/5/2015) lalu.

Baiq menceritakan, orangtua angkatnya sering mengajak dialog tentang agama. Baiq pun mesti berdiskusi dengan terbuka menjelaskan tentang Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orangtua angkat saya yang ayah, beliau mantan dosen teologi, ilmu agama. Jadi kita kadang banyak diskusi tentang agama. Serius-serius gimana gitu. Tapi senang aja. Seenggaknya bisa membuka jalan buntu muslim di Amerika. Sebenarnya gak seburuk di media loh," demikian celoteh Baiq.

Orangtua angkat Baiq, memang sudah menjadi orangtua angkat pertukaran pelajar sejak tahun 1980-an. Namun, Baiq adalah anak angkat pertama yang muslim dan berjilbab.

"Sampai sekarang saya orang muslim pertama dan berjilbab yang mereka asuh. Dengan berjilbab itu sebenarnya mereka mau tahu, sebenarnya gimana sih, orang muslim itu gimana sih. Apa sih di kepala kamu? Ngapain pakai itu? Kan panas di Indonesia, masa pakai gituan, apa gak gerah atau gimana," tutur Baiq.

Saat pertukaran pelajar ke AS, Baiq ditempatkan di Glenoak High School, Ohio, AS. Saat ditanya tentang makanan halal di Ohio, Baiq mengaku selama ini mengakalinya dengan makan sayur saja. Namun, beruntungnya Baiq, orangtua angkatnya sangat pengertian.

"Kebetulan, kota saya itu, Kota Canton itu ada beberapa kedai halal yang pemiliknya orang Arab. Walaupun agak mahal tapi saya nggak pernah beli. Tapi karena mereka tahu nggak boleh makanan yang nggak halal, jadi mereka sering masak sayur-sayuran gitu. Salad dan sebagainya. Sebelum ke Amerika saya nggak suka makan sayur, tapi setelah di Amerika dan setelah ke Amerika, saya jadi senang deh sayur. Malah saya jadi nggak bisa makan daging banyak," kisahnya.

Terkadang, Baiq bergantian memasakkan orangtua angkatnya masakan Indonesia. "Kayak nasi goreng udang atau opor telor. Kan itu nggak ada dagingnya ya. Bisalah dimakan. Jadi kalau masalah makanan, saya sih nggak terlalu bermasalah," tuturnya

Namun diakuinya, dia kangen makanan pedas di sana. Di Ohio AS, tak ada makanan sepedas di daerah asalnya, Lombok. Selebihnya, Baiq sangat menikmati masa-masa sekolahnya di AS. Banyak pelajaran positif yang bisa dia ambil dan menjadi bekalnya kemudian.

"Secara umum kalau di Amerika, kita nggak bisa pungkiri kalau orangnya lebih terbuka. Open minded terhadap hal-hal baru terhadap hal asing di sekitar mereka. Kalau di Indonesiakan kadang kurang terbuka. Karena di sana bebas, jadi saya bisa pilih kelas sendirilah. Debat sama guru itu hal yang lumrah sekali. Ini loh yang bener pak, bu," tutur anak dari pasangan PNS dan guru madrasah swasta ini.

Sisi positifnya, lanjut Baiq, orang AS banyak mengapresiasi hal-hal kecil.

"Kayak, 'Hey I like your shoes', 'I like your dress'. Jadi mereka mengapresiasi hal-hal kecil. Dan kalau kita buat sesuatu yang baik selalu ada reward," kata dia sambil menambahkan bahwa dirinya paling terkesan dengan salju.

Baiq adalah 1 dari 83 pelajar Indonesia yang mengikuti program Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES). YES merupakan program beasiswa penuh yang diberikan oleh Pemerintah AS yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman antara masyarakat AS dengan masyarakat negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim dengan peserta pelajar usia 15-17 tahun dari negara-negara dengan populasi Muslim, termasuk Indonesia. Program ini memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk menghabiskan sampai dengan satu tahun pendidikan akademik di Amerika Serikat.
Halaman 2 dari 1
(nwk/try)


Berita Terkait