Siapa Beiby? Dia adalah pemilik sanggar Kolintang Bapontar di wilayah Jalan Karet Sawah 212, Setiabudi, Jakarta Selatan. Tempat itu menjadi rumah singgah bagi anak jalanan dan kaum-kaum tak mampu lainnya.
Kepada detikcom, Jumat (19/6/2015), perempuan 55 tahun ini menceritakan sejumput kisahnya menuntun orang-orang dengan latar belakang kelam. Salah satunya sat dia berhasil membimbing sosok perampok bernama Supri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Supri dikisahkannya adalah rampok yang pernah rela nangkring dua hari di atap rumah untuk mengeksekusi misinya. Sebuah rumah berhasil dia bongkar pada tengah malam setelah menunggu dua hari. Namun Beiby tetap menerima Supri.
"Dia setengah Jawa setengah Sunda. Begitu kumpul dengan kami, kemudian kami beri nama Nando. Waktu itu umurnya paling baru 16 atau 18 tahun," kata Beiby.
Guru khusus didatangkan untuk mengajari Supri baca dan tulis. Sepuluh tahun kemudian, setelah mengucapkan terimakasih kepada Beiby, diketahui Supri sudah menjadi pengepul barang-barang pemulung. Wilayah edarnya ada di sekitar Jakarta.
Ada pula seorang pria residivis kasus pembunuhan bernama Ronny. Selama ditampung di Sanggar di bilangan Setiabudi Jakarta selatan itu, Ronny menjalani hidup lebih terkendali.
"Paling tidak, hidupnya terkontrol. Dia ada minat berubah," kata Beiby.
Ronny sendiri berusia lebih tua daripada Beiby. Untuk sat ini, Beiby sudah kehilangan kontak dengan Ronny.
Ada pula Doli yang kini hendak meneruskan pendidikan ke kursus otomotif. Doli adalah anak dengan catatan kenakalan, penggunaan narkoba, dan perkelahian. Namun Beiby bulat tekad mau membiayai kursus Doli.
"Banyak juga (anak asuh) yang jadi sopir, gara-garanya saya bolehkan mobil saya dipakai untuk belajar menyetir," tuturnya.
Beiby tak hanya menghadapi satu orang dengan catatan kriminal, melainkan banyak. Namun dia tak takut menghadapi orang-orang dengan latar belakang mengerikan, karena niatnya tulus untuk membantu.
"Yang lebih parah saya hadapi banyak, seperti ada yang debt collector, suka bunuh-bunuh orang, dan pemabuk. Saya tidak pernah takut menghadapi mereka karena kita sama-sama manusia," tuturnya.
Saat ini, dia sedang menjalankan kegiatan program edukasi budaya untuk anak-anak. Dia mempersuasi anak-anak jalanan di kolong jembatang Tomang Jakarta Barat untuk ikut melestarikan kesenian Indonesia, khususnya Minahasa, yakni alat musik Kolintang.
"Saya mau jemput mereka sepekan sekali, hari Minggu ke sanggar kita agar latihan," kata Beiby.
Dia punya cara pendekatan tersendiri agar anak-anak jalanan bis mau ikut bermain kolintang. Mulanya, petugas sanggar membawa kolintang ke kolong jembatan, lantas banyak anak-anak yang tertarik. Selama ini, Sanggar selalu ke lokasi tiap pekan dengan mobil bak terbuka berisi sembilan kolintang.
"Daripada nanti mereka kena narkoba atau minuman keras? Lebih baik mereka diajari kesenian, kita didik pola pikirnya dari kecil untuk tidak berbicara kotor, jangan meludah sembarangan, dan ajaran budi pekerti," tuturnya.
Halaman 2 dari 1











































