Selasa (23/6/2025) malam, Hamidah masih nampak terpukul dan lebih memilih diam saat orang-orang di sekitarnya sibuk berbicara bagaimana sosok Engeline atau bagaimana kelanjutan kasus pembunuhan Engeline. Duduk di tepi tempat tidur kamar hotelnya, ia lebih banyak diam namun matanya tak lepas dari layar HP-nya.
Ternyata bukan tanpa sebab ia menatap layar HP-nya. Di layar itu, wajah Engeline yang sedang tersenyum sengaja diaturnya menjadi latarbelakang HP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto Engeline memang banyak beredar seiring dengan merebaknya berita hilangnya bocah 8 tahun itu. Di HP-nya ada beberapa foto Engeline yang diunggahnya saat bocah berusia 8 tahun itu menggunakan kemeja bergaris dengan tatapan nanar ke arah kamera.
Hamidah kini mencoba untuk tegar dan kuat menerima kenyataan harus kehilangan putri tersayangnya. Dahulu, saat menerima tawaran rekan Margriet untuk mengadopsi anaknya, ia berharap Engeline bisa hidup layak dan bahagia.
"Karena waktu itu kami kesusahan biaya, kami tidak punya banyak pilihan," ucapnya lirih.
Dengan suara bergetar, ia bercerita bahwa ia hanya bisa menangis saat proses penandatangan dokumen adopsi dilakukan pada 2007 silam. Ia menangis membayangkan harus berjauhan dari putri keduanya padahal belum juga 1 minggu mereka bersama.
8 Tahun tak melihat putrinya, pertemuan pertama justru di kamar mayat rumah sakit saat memastikan jasad Engeline. Sejak saat itu juga ia menjadi pendiam dan hanya berbicara pada orang-orang tertentu saja. Salah satu terapi yang dilakukannya untuk kembali 'pulih' adalah dengan memasang foto Engeline di layar HP-nya.
Foto-foto itu diunduhnya agar ia bisa terus mengenali wajah putrinya yang sudah tiada. Wajah Engeline yang sedang tersenyum dibuatnya menjadi penyemangat dan agar ia terus mengingat anaknya dalam wajah tanpa beban, bahagia dan tak seperti kabar-kabar yang beredar.
Selain foto, ia mengatakan bahwa wajah Engeline sangat mirip dengan anaknya yang ketiga yang baru berusia 14 bulan. Tak jarang ia merasa seperti menggendong Engeline kecil saat sedang bermain dengan putri ketiganya itu.
Hamidah kini hanya berharap kepolisian Bali terus mengembangkan penyelidikan untuk menemukan dalang pembunuhan Engeline. Nalurinya sebagai ibu yakin Agus hanyalah 'boneka' dari pembunuh sesungguhnya.
"Saya yakin bukan Agus yang membunuh," ujarnya. (mnb/ega)










































