Polisi Periksa Kejiwaan Kakak Korban Pembunuhan Sadis di Ciledug

Polisi Periksa Kejiwaan Kakak Korban Pembunuhan Sadis di Ciledug

Herianto Batubara - detikNews
Selasa, 23 Jun 2015 18:41 WIB
Polisi Periksa Kejiwaan Kakak Korban Pembunuhan Sadis di Ciledug
Jakarta - Polisi mengatakan, sesuai keterangan dokter, pengakuan MR (17) berubah-ubah soal siapa pembunuh adiknya PMS (13). Hari ini, polisi pun melakukan tes pemeriksaan kejiwaan MR.

"MR sedang diperiksa kejiwaannya. Mulai hari ini. Tes kejiwaan hasilnya 2-3 hari lah (baru keluar)," kata Kasat Reskrim Polrestro Tangerang Kota AKBP Sutarmo saat ditemui detikcom di ruang kerjanya, Selasa (23/6/2015) sore.

Dijelaskan Sutarmo, para dokter yang menangani MR di RSU Bhakti Asih, Ciledug dan RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, punya pendapat sama. Yakni, keterangan MR soal siapa pembunuh adiknya selalu berubah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pengakuan dokter pertama dan kedua, keterangannya dia (MR) tidak stabil. Kadang bicara A, kadang B. Dari situ ada gejala, kemudian disarankan kita periksa kejiwaannya," ucap Sutarmo.

"Keterangan MR pada dokter di RS Polri juga berubah-ubah. Kadang dia bilang pelakunya besar tinggi hitam. Lain waktu lagi, pelakunya jin. Itulah kayaknya agak terganggu kejiwaannya, sehingga kita lakukan tes kejiwaan," sambung Sutarmo menegaskan.

Lanjut Sutarmo, polisi memang masih menggali keterangan MR lewat dokter. "Kita gunakan dokter karena penyidik belum boleh banyak mengintrogasi," ucapnya.

Saat MR dirawat di RSU Bhakti Kasih, lanjut Sutarmo, MR sering pingsan. Penyidik pun sama sekali tidak boleh masuk ke ruang perawatan oleh dokter. Ketika dipindah ke RS Polri, kondisi MR sudah cukup membaik dan sadar. Namun oleh dokter, MR dilarang banyak bicara karena luka tusukan di lehernya.

"Karena kalau diajak (bicara) itu urat (MR) tertarik. Bahasa dokter seperti itu. Untuk mempercepat kesembuhan, dia enggak boleh banyak diajak bicara kata dokter," ucap Sutarmo.

Sutarmo menambahkan, polisi juga masih menunggu hasil tes DNA sperma yang ditemukan polisi di vagina PMS. Belum ada orang yang ditetapkan jadi tersangka dalam kasus ini.

"Sampai sekarang belum ditemukan bukti yang kuat untuk menetapkan tersangka. Intinya Itu. Semua masih dalam proses. Semua diuji kebenaran, semua dikroscek dalam rangka mengacu penyidik mencari bukti kuat," imbuh Sutarmo.

"Kasus ini memang agak sulit. Saksi TKP tidak ada (selain MR), sehingga kita mencari bukti-bukti secara scientific investigation. Itu perlu waktu prosesnya," sambung Sutarmo menegaskan.

PMS dibantai secara sadis pada Minggu (7/6/2015) lalu di rumah kontrakan keluarganya di Kelurahan Sudimara, Kota Tangerang, Banten. Ia ditemukan tewas di depan kamar mandi dengan luka tusuk di leher.

Awalnya beberapa warga setempat mendengar ada suara minta tolong sekitar pukul 15.30 WIB. Setelah dicari, suara itu ternyata suara MR yang tergeletak di depan pintu kontrakannya dengan luka tusuk di leher.

Saat itu kepada warga, MR mengatakan ada seorang pria bertubuh besar dan bermasker yang menyerang dia dan adiknya. Ketika dicari, warga melihat PMS sudah tergeletak bersimbah darah dengan posisi telungkup di depan pintu kamar mandi. (hri/dhn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads