"Parpol seolah jadi sumber masalahnya, karena mereka tidak melakukan seleksi ketat. Jadi kalau ada yang bayar selesai sudah. Kalau proses seleksi ketat, persoalan politik dinasti selesai di situ," kata Direktur Eksekutif LIMA Indonesia, Ray Rangkuti, kepada detikcom, Selasa (23/6/2015).
Parpol punya tanggung jawab besar untuk mendorong demokratisasi. Semestinya parpol menjadi garda terdepan, namun ironisnya sejumlah kepala daerah yang berada dalam dinasti politik juga diusung oleh parpol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat didorong Ray untuk tidak memilih para kepala daerah yang dari dinasti politik tertentu. "Sebetulnya jangan dipilih tapi kan di lapangan itu terkadang beda situasinya," katanya.
Solusi yang paling ampuh untuk menghentikan politik dinasti sementara ini, menurut Ray, KPU harus mencabut dan merevisi surat edaran tentang syarat pencalonan kepala daerah.
"KPU harus segera mencabut surat edaran itu, setidaknya dipertegas bahwa mereka yang mundur dari jabatan kepala negara tidak dengan sendirinya dianggap bukan petahana kecuali ada alasan yang nggak mungkin misalnya yang bersangkutan meninggal atau yang bersangkutan sakit yang nggak bisa diharapkan kesembuhannya," sarannya.
Kalau tidak ada upaya serius dan konkret tentu saja upaya menghentikan praktik politik dinasti seperti yang sedang terjadi di Pekalongan tidak akan berhasil. "Seharusnya ini jadi perhatian semua pihak. Semua harus sepakat politik dinasti ini dihentikan," pungkasnya.
(van/try)











































