Wahyudin berasal dari keluarga miskin di mana sang ayah memiliki dua istri. Dengan istri pertama dikaruniai lima anak, kemudian dengan istri kedua tiga anak. Wahyu adalah sulung dari istri kedua.
Sejak kecil dia sadar bahwa adalah hal mustahil bila merengek ke orang tua untuk minta disekolahkan. Tapi di saat yang sama, ketika duduk di bangku kelas IV SD, dia sangat sadar bahwa untuk mengubah nasib keluarga maka haruslah menempuh pendidikan sampai tingkat tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu tak ada anak yang tak ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Bagi Wahyu, cita-cita seperti itu adalah yang paling utama.
Sejak kecil dia telah melihat bagaimana keadaan kakak-kakak sebapaknya yang harus berjuang keras untuk mengebulkan dapur karena tak berbekal pendidikan formal. Tentu saja kalau Wahyu ingin bahagiakan orang tua, dia tak boleh melakukan hal yang sama dengan kelima kakaknya itu.
"Saya ingin bahagiakan mereka, saya ingin membuat sesuatu yang lebih untuk mereka. Kalau saya melakukan hal-hal biasa seperti anak-anaknya yang lain, berarti saya bodoh. Saya mau kasih sesuatu yang lebih untuk mereka, tapi saya enggak bisa berbuat lebih. Itu yang mendorong saya harus berpendidikan, supaya bahagia untuk diri sendiri dan lingkungan," tutur Wahyu.
Terkenang oleh dia saat-saat harus mengumpulkan sampah sejak pukul 01.00 WIB hingga adzan subuh berkumandang. Kembali dia ke rumah untuk mandi dan berangkat pagi-pagi sekali agar bisa berjualan gorengan sebelum masuk sekolah.
Rasa kantuk sudah biasa menggodanya setiap hari selama sekolah sejak kelas IV SD. Untunglah harga balsam dan minyak kayu putih masih terjangkau bagi Wahyudin.
"Setiap sekolah saya bawa balsam dan minyak kayu putih untuk dioleskan dekat mata. Rasanya panas, tapi efektif bikin mata melek. Saya enggak mau ketinggalan pelajaran hanya karena ngantuk dan ketiduran," kenang Wahyu.
Tak jarang teman-temannya ada yang menertawakan 'ide brilian'-nya itu. Tapi menjadi minder dan pesimistis tak ada dalam kamus hidup seorang Wahyu.
Di sore hingga malam hari dia meneruskan untuk memulung. Bahkan ketika SMA dan hendak kuliah, sempat terbayang oleh wahyu untuk memulung sampah sebanyak 4 truk karena jenjang S1 ditargetkan selesai dalam 4 tahun.
"Orang tua saya miskin, saya harus jadi kaya untuk bisa bantu orang tua. Saya harus memotong tali rantai kemiskinan keluarga. Harus berusaha untuk menjadi pribadi yang kaya. Orang tua saya sudah saya bukakan warung sayur. Alhamdulillah, sekarang kehidupannya jauh lebih baik. (Mereka) bisa pegang uang, kan mereka saya bikinin warungnya (dengan) modalnya dari orang tua angkat," tutur dia.
Berceritalah dia tentang orang tua angkat yang selama ini sering membantunya. Meski biaya kuliah saat S1 akan ditanggung penuh oleh orang tua angkat, tetapi Wahyu tetap mengumpulkan uang dari hasil memulung untuk biaya kuliah.
"Orang tua angkat saya Ummi sama Abah Husen Alatas dan keluarganya. Termasuk kakak-kakak angkat saya, keluarga ustad Hamzah Habib Husen Alhabsyi, ustad Husen Alatas dan Ustad Hamzah, itu 3 keluarga yang menjadi role model untuk menata kehidupan saya ke depannya. Mereka memperlakukan saya dengan kasih sayang bukan cuma materi, mereka kasih contoh yang nyata untuk peduli lingkungan. Saya jadi termotivasi untuk bantu orang juga dari situ. Saya bikin komunitas inspirasinya dari situ," kata dia.
Kini dirinya tengah merampungkan jenjang pendidikan Magister of Bussiness Administration ITB. Wahyu juga sedang menatap jenjang pendidikan doktoral di luar negeri.
"Mimpi saya itu Alhamdulillah sebagian sudah tercapai. Saya yakin ketika saya bermimpi itu saya selalu mengasumsikan kalau saya sedang membuat proposal ke Allah. Jadi kalau mimpi itu belum terwujud berarti ada yang salah sama 'proposal' saya. Apa yang salah mungkin usaha dan semangatnya belum full," kata dia.
Selain berdoa, Wahyu juga beranggapan bahwa sedekah pun mendorong terwujudnya cita-cita itu. Dia sadar jika belum mampu menyumbang materi, tetapi menurutnya dia bisa membantu orang kesulitan dengan mencarikan donatur.
"(Kalau) saya selalu bermimpi, saya tulis di atas kertas dan saya tempel di dinding. Abah bilang tidak ada doa yang tidak dikabulkan, jadi kita berdoa saja pasti dikabulkan. Cuma masalah waktu saja," ucap pemuda kelahiran 1991 ini.
Di masa depannya, Wahyu ingin bergerak di usaha properti. Saat ini dirinya pun sudah merintis usaha peternakan entok dan 'pensiun' dari profesi pemulung. Wahyu juga ingin membuka usaha bersama kawan-kawannya sehingga dapat membangun ekonomi lingkungannya.
"Cita-cita untuk orang tua, saya pengin renovasi rumah orang tua saya. Saya sering dengar ibu saya rumahnya mau direnovasi," kata dia.
"Saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan menjadi manfaat untuk banyak orang," pungkas dia.
Halaman 2 dari 2











































