"Kita bangun soul-nya dari situ, itu sederhana. Bahkan mualaf bisa menjalani yang sederhana. Contoh, kalau mau keluar rumah bawa aja plastik kecil, kumpulin sampah sampai penuh, masukkan tempat sampah. Selesai. Kalau ada tetangga yang melihat, itu sudah dakwah," jelas Ketua Mualaf Center Indonesia Steven Indra Wibowo (33) saat berbincang dengan detikcom di Blok M Plaza, Jakarta Selatan, pada Senin (15/6/2015). Β
Steven menjelaskan, bila ada orang lain yang mendapat manfaat dari jalanan yang bersih itu, misal orang hendak mengaji atau salat ke masjid, maka yang membersihkan bisa mendapatkan pahala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Steven juga pernah memiliki kisah dakwah yang sederhana yang bisa menunjukkan perilaku bagaimana ajaran Islam sebenarnya ini. Dia pernah bertemu dengan mualaf Jerman yang baru 1,5 bulan memeluk agama Islam, dan baru bisa salat. Suatu saat ibu sang mualaf ini datang dari Jerman.
"Ibunya datang, dicium tangan. Ibunya duduk ditawari mau minum apa, dia yang buatin. Ada pembantu tapi mualaf itu bilang pembantu buat tamu yang lain. Ibunya keluar rumah, disiapkan sandal, nggak pernah menolak dan melawan. Ibunya heran, belum pernah terjadi sebelumnya. Nggak percaya anaknya bisa berubah, jadi lembut sekali," tutur Steven.
Di Jerman, Islam diasosiasikan dengan keras, namun ternyata ibu itu mendapati anaknya yang menjadi mualaf bisa menjadi lebih lembut dari sebelumnya. "Beberapa hari setelah itu, ibunya bilang mau masuk Islam," tutur dia.
Esensi yang ingin disampaikan Steven dalam membina mualaf bahwa bahwa selain membawa ajaran tauhid, Nabi Muhammad SAW membawa agama Islam adalah untuk mengubah akhlak manusia. Ajarannya pun tidak monolog, melainkan dialog.
"Rasulullah memberikan sesuatu pada sahabat dan umat muslim bentuknya dialog. Lihat semua hadis bentuknya apa, bertanya kan? Si Anu bertanya pada Rasulullah bagaimana kalau begini-begini, dan Rasulullah menjawab. Rasulullah nggak pernah monolog," katanya.
Maka hal itu pula yang diterapkan Steven, berdialog secara privat. Maka, tak pernah ada jadwal majelis taklim di Mualaf Center yang berkantor di kawasan Tomang, Jakarta Barat.
"Kita jarang pengajian rutin, kita nggak bermajelis, kita langsung, pendidikan langsung. Kalau dikumpulkan dalam satu ruangan pengajian, tidur, masuk kanan-keluar kiri. Kalau dialog privat, dia berani nanya. Kalau dikumpulin, nggak nanya, malu. Udah pernah kita coba, nggak masuk, akhirnya kita ubah sistemnya. Lebih ke arah privat, ngajak ngobrol. Nanya apapun kita jawab," kata pria yang mengaku sempat kelimpungan mencari guru agama pasca menjadi mualaf ini.
Teknologi pun dimaksimalkan untuk membina para mualaf ini. Para pengurus dan pendamping di Mualaf Center Indonesia yang tersebar di 33 kota di Indonesia dan 7 cabang di luar negeri, siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan agama dasar yang sering diajukan para mualaf.
"Ya pastinya (memakai teknologi). Sekarang lebih aktif, ada yang nanya, ada WA (WhatsApp) grup. Di kota-kota lain juga, MCI Jatim, Jateng, Yogya," tuturnya.
Lantas, apa pesan pada pemerintah dan umat Islam? "Ukhuwah ya.. ukhuwah (persaudaraan). Jangan cuma lip service, lakukan," jawabnya.
Halaman 2 dari 1











































